Presiden OpenAI Greg Brockman mengungkapkan kepemilikan saham pribadinya di perusahaan tersebut kini bernilai antara 20 hingga 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp480 triliun. Pernyataan ini muncul dalam persidangan gugatan Elon Musk yang menuduh petinggi OpenAI melakukan penjarahan aset yayasan nirlaba demi keuntungan komersial. Kasus hukum ini menjadi titik krusial yang membongkar keretakan hubungan antara para pendiri raksasa kecerdasan buatan tersebut.
Dalam kesaksiannya di pengadilan federal pada Senin waktu setempat, Greg Brockman menghadapi rentetan pertanyaan tajam mengenai akumulasi kekayaan pribadinya. Pengacara Elon Musk, Steven Molo, mencoba membangun narasi bahwa Brockman dan CEO Sam Altman telah menyalahgunakan misi awal OpenAI yang bersifat nirlaba. "Mengapa tidak menyumbangkan 29 miliar dolar AS itu ke yayasan nirlaba OpenAI?" tanya Molo di ruang sidang.
Brockman menangkis tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa nilai saham tersebut adalah hasil kerja keras bertahun-tahun. Ia menyatakan bahwa dirinya dan tim telah mencurahkan "darah, keringat, dan air mata" untuk membangun OpenAI, terutama setelah Elon Musk meninggalkan perusahaan pada 2018. Brockman bersikeras bahwa kepentingan finansialnya tetap berada di bawah misi utama perusahaan untuk menciptakan kecerdasan buatan umum (AGI) yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Ancaman Elon Musk dan Ketegangan di Ruang Sidang
Persidangan ini juga mengungkap komunikasi personal yang agresif antara para pendiri. Dua hari sebelum persidangan dimulai, Elon Musk dilaporkan mengirim pesan kepada Brockman yang bernada ancaman setelah upaya penyelesaian di luar pengadilan gagal. "Pada akhir pekan ini, Anda dan Sam [Altman] akan menjadi orang yang paling dibenci di Amerika," tulis Musk dalam pesan yang diungkap oleh pengacara OpenAI.
Meskipun hakim menolak pesan tersebut diperdengarkan di depan juri, bukti ini mempertegas ambisi Musk untuk merusak reputasi publik OpenAI. Di dalam ruang sidang, suasana terasa sangat dingin. Sam Altman tampak hadir di galeri publik dengan wajah muram, sementara Brockman memberikan jawaban yang digambarkan oleh pengamat sebagai respons yang sangat terukur, bahkan cenderung robotik.
Struktur Kepemilikan dan Rencana IPO OpenAI
Brockman memaparkan rincian struktur kepemilikan OpenAI untuk membantah tuduhan penjarahan aset. Menurutnya, yayasan nirlaba OpenAI saat ini memegang saham senilai lebih dari 150 miliar dolar AS (sekitar Rp2.400 triliun), menjadikannya salah satu organisasi nirlaba terkaya di dunia. Angka ini setara dengan lima kali lipat kepemilikan pribadi Brockman.
- Karyawan OpenAI secara kolektif memegang sekitar 25 persen saham perusahaan.
- Yayasan nirlaba OpenAI menguasai 27 persen saham.
- Total donasi yang diterima yayasan dari pihak luar, termasuk Musk, diklaim kurang dari 150 juta dolar AS.
Valuasi saham Brockman berpotensi melonjak lebih tinggi jika OpenAI benar-benar melakukan penawaran umum perdana (IPO). Ketika ditanya mengenai rencana melantai di bursa saham dalam dua tahun ke depan, Brockman membenarkan bahwa perusahaan sedang mengeksplorasi kemungkinan tersebut. Langkah ini akan menandai transformasi total OpenAI dari laboratorium riset kecil menjadi entitas komersial raksasa.
Sorotan pada Konflik Kepentingan dan Investasi Pribadi
Selain masalah saham, persidangan ini menyoroti hubungan finansial yang rumit antara Brockman dan Sam Altman. Terungkap bahwa pada masa awal OpenAI, Brockman menerima kompensasi berupa saham senilai 10 juta dolar AS di kantor keluarga (family office) milik Altman. Hal ini sempat tidak diketahui oleh Musk hingga akhirnya diungkapkan pada tahun 2017.
Brockman juga mengakui memiliki investasi pribadi di beberapa perusahaan yang menjalin kemitraan besar dengan OpenAI, seperti Cerebras, CoreWeave, dan Helion Energy. Selama ini, sorotan terhadap konflik kepentingan lebih banyak tertuju pada Altman. Namun, fakta persidangan ini menunjukkan bahwa Brockman juga memiliki jejaring investasi yang bersinggungan langsung dengan operasional OpenAI.
Meski dicecar mengenai kegagalannya memenuhi janji donasi awal sebesar 100.000 dolar AS saat OpenAI didirikan, Brockman menolak disebut "bangkrut secara moral". Ia tetap pada posisinya bahwa model bisnis capped-profit yang mereka jalankan adalah satu-satunya cara realistis untuk menandingi kekuatan komputasi perusahaan besar seperti Google DeepMind.