JAKARTA — Lonjakan harga logam mulia ini mengakhiri tren volatilitas yang sempat membebani pasar akibat konflik geopolitik. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga ikut terkerek, ditutup naik tipis 0,1 persen di posisi USD 4.354,40 per ons.
Gencatan Senjata jadi Katalis Positif
Pemicu utama reli emas adalah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Langkah tersebut sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya terblokade akibat ketegangan militer antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari lalu.
Sentimen damai ini langsung mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas, di tengah ekspektasi bahwa suku bunga tinggi tidak akan bertahan lebih lama. Sebelumnya, konflik geopolitik sempat membebani emas karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi.
Harga Minyak Justru Tertekan
Di sisi lain, kabar gencatan senjata justru menekan harga minyak mentah Brent hingga jatuh di bawah USD 80 per barel. Level tersebut menjadi yang terendah sejak Maret, mengindikasikan bahwa premi risiko akibat konflik mulai menguap.
Relaksasi harga minyak ini dinilai sebagai sinyal positif bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve, untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Kondisi ini menjadi angin segar bagi harga emas yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga acuan.
Apa Dampaknya ke Pasar Logam Mulia Domestik?
Kenaikan harga emas dunia biasanya diikuti oleh penyesuaian harga emas batangan di dalam negeri, termasuk produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Meski demikian, pergerakan harga emas lokal juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Para analis memperkirakan tren positif emas masih berpeluang berlanjut jika ketegangan geopolitik tidak kembali memanas. Investor disarankan mencermati perkembangan kebijakan moneter AS dan situasi di Timur Tengah sebagai indikator utama pergerakan harga ke depan.