CIREBON — Suasana Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-599 Kota Cirebon di Gedung DPRD setempat berlangsung khidmat, Selasa (16/6). Para tamu undangan dan masyarakat memenuhi ruang sidang Griya Sawala dengan mengenakan busana adat dan batik, mencerminkan identitas Cirebon sebagai kota multikultur.
Tema "Manunggal Winangun Caruban" yang diusung tahun ini tidak sekadar slogan. Sejumlah capaian pembangunan dipaparkan, mulai dari penghargaan pengendalian inflasi terbaik hingga opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, perhatian peserta sidang justru tertuju pada seorang tokoh non-politisi: Taufiq Yusuf, putra asli Cirebon yang kini menjabat Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Dari Lorong Sempit ke Panggung Paripurna
Taufiq mengaku terharu bisa kembali ke kota kelahirannya dalam momentum menjelang usia 600 tahun Cirebon. Ia bercanda bahwa dirinya meninggalkan Cirebon sejak 1995, tetapi masih bisa terlacak oleh pemerintah kota hingga diundang sebagai pembicara. Candaan itu disambut tawa hadirin.
Setelah suasana mencair, ia menyampaikan pesan inti: “Kalau dari lorong sempit, harus lahir solusi besar.” Wilayah yang ia pimpin hanya seluas 5.400 meter persegi, nyaris seluruhnya tertutup beton dan bangunan padat. Ruang terbuka sangat terbatas.
Di sana, Taufiq bersama warga membangun konsep Survival Architecture Indonesia, pendekatan yang menjawab persoalan lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat dari tingkat RT. Saat berada di Cirebon, ia justru merasa iri karena kota kelahirannya masih memiliki banyak tanah kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Sampah Organik Jadi Tambang Emas
“Kami sedih melihat Cirebon masih banyak tanah kosong, tetapi belum dimanfaatkan,” tuturnya. Menurut dia, persoalan lingkungan harus dilihat melalui prinsip triple bottom line: people, profit, planet. Perubahan budaya masyarakat harus berjalan seiring peningkatan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan.
Salah satu sumber daya yang paling sering diabaikan adalah sampah rumah tangga. “Sampah itu tambang emas yang ada di depan mata,” ujarnya. Sampah anorganik relatif sudah memiliki jalur pengelolaan, tetapi sampah organik kerap dianggap tidak bernilai dan berakhir di tempat pembuangan akhir.
Di lingkungan yang dipimpinnya, sisa makanan rumah tangga diolah melalui sistem terpadu: maggot, komposter, lubang resapan biopori, ayam petelur, ikan, hingga tanaman. Sampah organik menjadi pakan maggot yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ayam dan ikan. Hasil sampingnya kembali digunakan sebagai pupuk, membentuk siklus yang menghasilkan pangan sekaligus mengurangi volume sampah.
“Asal mulanya adalah sampah,” katanya saat menjelaskan konsep tersebut.
Mengubah Pola Pikir, Bukan Sekadar Sarana
Keberhasilan program itu kemudian berkembang menjadi Eco Edu Farm, sistem yang menggabungkan edukasi, ketahanan pangan keluarga, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem saling terhubung. Perjalanan menuju sistem itu tidak terjadi dalam semalam. Taufiq telah menanam pohon selama 21 tahun dan mengolah kompos secara mandiri lebih dari satu dekade.
Menurut dia, kebiasaan memilah sampah dan menghabiskan sampah organik dari rumah sendiri sudah menjadi budaya di RT yang dipimpinnya. Saat pemerintah mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya, warganya relatif lebih siap menjalankannya.
Tantangan terbesar, kata Taufiq, bukanlah sarana atau pendanaan, melainkan mengubah pola pikir masyarakat. Pemimpin lingkungan harus mampu menjelaskan tujuan program sekaligus memberi teladan agar warga melihat manfaat nyata dan bersedia terlibat. Pendekatan itu perlahan membuahkan hasil: lingkungan yang sebelumnya gersang mulai berubah menjadi kawasan produktif.