BANDUNG — Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung Kuswardojo mengungkapkan bahwa tingginya tingkat okupansi dipengaruhi pola perjalanan yang dinamis selama periode libur. "KAI Daop 2 Bandung mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mempercayakan kereta api sebagai moda transportasi pilihan selama libur akhir pekan dan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah," ujarnya di Bandung, Selasa (16/6).
Stasiun Bandung dan Kiaracondong Jadi Pusat Pergerakan
Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong menjadi titik utama pergerakan penumpang di wilayah Daop 2. Pada Selasa (16/6) saja, sebanyak 4.849 pelanggan berangkat dari Stasiun Bandung dan 2.359 pelanggan dari Stasiun Kiaracondong. Secara kumulatif sejak Jumat (12/6), Stasiun Bandung melayani 26.804 penumpang keberangkatan, sementara Stasiun Kiaracondong mencatat 13.827 penumpang.
Tak hanya sebagai titik keberangkatan, kedua stasiun ini juga mencatat arus kedatangan yang tinggi. Sebanyak 28.682 penumpang tiba di Stasiun Bandung dan 14.051 penumpang tiba di Stasiun Kiaracondong selama periode yang sama. Angka ini menunjukkan Bandung tetap menjadi destinasi favorit wisatawan selama libur panjang.
Antisipasi Arus Balik dan Komitmen Layanan
Untuk mengantisipasi lonjakan arus balik, KAI Daop 2 Bandung memperkuat kesiapan sarana dan prasarana. Langkah ini diambil guna menjaga keselamatan, keandalan operasional, serta ketepatan waktu perjalanan hingga masa libur berakhir. "Tingginya jumlah pelanggan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang andal dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan perjalanan," kata Kuswardojo.
Pada Selasa (16/6), total 13.222 pelanggan tercatat melakukan perjalanan dari wilayah Daop 2 Bandung. Angka ini menjadi puncak pergerakan selama periode libur. KAI Daop 2 memastikan seluruh rangkaian perjalanan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Mengapa Okupansi Bisa Melebihi 100 Persen?
Fenomena okupansi di atas 100 persen bukanlah hal baru dalam operasional kereta api di Indonesia. Pola perjalanan dinamis memungkinkan satu kursi digunakan oleh lebih dari satu penumpang dalam rute yang berbeda. Misalnya, penumpang dari Stasiun Bandung turun di Stasiun Purwakarta, lalu kursi yang sama langsung diisi penumpang lain dari Purwakarta menuju Jakarta. Sistem ini memaksimalkan kapasitas angkut di tengah tingginya permintaan selama musim liburan.