Pernyataan itu disampaikan Bezos di ajang VivaTech di Paris, pekan ini, di tengah gelombang PHK di perusahaan teknologi global yang kerap dikaitkan dengan adopsi AI. Sepanjang 2024, Pinterest memangkas 15 persen karyawannya, Jack Dorsey mengumumkan 4.000 PHK di Block, sementara Meta, Cisco, dan Atlassian juga melakukan efisiensi serupa.
"Saya tahu banyak orang, termasuk orang-orang pintar, khawatir AI akan membuat manusia menjadi redundan," ujar Bezos. "Saya sama sekali tidak setuju. Justru, AI akan menciptakan kekurangan tenaga kerja."
Mengapa Bezos Berpikir Berbeda dari Raksasa Teknologi Lain
Argumen Bezos bertumpu pada sejarah inovasi. Setiap gelombang teknologi baru—dari mesin uap hingga internet—selalu memicu ketakutan akan pengangguran massal, tapi pada akhirnya melahirkan kategori pekerjaan yang sebelumnya tak terbayangkan.
Analis keuangan Oluwapelumi Joseph, yang tampil di podcast Drinks & Mics, memperkuat pandangan ini. "Setiap inovasi yang datang, yang selalu terjadi adalah eksagerasi berlebihan soal dampaknya terhadap pengangguran. Yang kita temukan justru munculnya jenis pekerjaan baru," katanya.
Data dari Kamar Dagang AS menunjukkan 5,5 juta aplikasi bisnis baru diajukan pada 2023—angka yang konsisten di atas 5 juta per tahun sejak 2021. Ini mengindikasikan bahwa alih-alih menganggur, banyak pekerja memilih menjadi wirausaha.
Produktivitas Naik, Bukan Pekerjaan Hilang
Bezos menekankan bahwa AI akan memperpendek waktu penyelesaian tugas kompleks, memperkuat penilaian manusia, dan membantu pemula mencapai level ahli lebih cepat—khususnya di bidang coding, analisis data, dan penulisan.
Bagi pasar tenaga kerja Indonesia, prediksi ini relevan. Sektor call center, administrasi, dan penerjemahan—yang selama ini dianggap paling terancam oleh AI generatif—bisa justru mengalami transformasi peran. Pekerja yang mampu mengoperasikan alat AI akan lebih bernilai ketimbang yang hanya mengandalkan keterampilan manual.
Kekurangan Tenaga Kerja: Skenario yang Lebih Realistis?
Alih-alih PHK massal, Bezos melihat skenario di mana pekerja secara sukarela meninggalkan pasar kerja karena fleksibilitas yang ditawarkan ekonomi gig dan kewirausahaan. Ketika lebih banyak orang memilih menjadi freelancer atau founder startup, perusahaan akan kesulitan mengisi posisi yang ditinggalkan.
Pandangan ini kontras dengan langkah perusahaan teknologi yang terus memangkas karyawan sambil mengintegrasikan AI. Namun Bezos yakin bahwa dalam jangka panjang, permintaan tenaga kerja manusia justru akan meningkat—bukan menurun.
Komentar Bezos di VivaTech menjadi penyeimbang di tengah narasi doom-and-gloom yang mendominasi diskusi AI. Meski kritikus menganggapnya terlalu optimistis, data historis tentang inovasi dan lapangan kerja cenderung mendukung argumennya.