BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung memacu berbagai program untuk menyerap hampir 100.000 pencari kerja yang tercatat di wilayahnya. Angka ini menjadi salah satu pekerjaan rumah utama bagi pemkot di tengah tekanan ekonomi yang masih melanda sektor formal.
Program Pelatihan Vokasi Jadi Andalan
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung menyebut pihaknya mengoptimalkan program pelatihan berbasis kompetensi. Pelatihan ini menyasar warga usia produktif yang belum memiliki keterampilan spesifik.
"Kami fokus pada pelatihan yang langsung terhubung dengan kebutuhan industri, seperti tata boga, teknologi informasi, dan perbengkelan," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin.
Bursa Kerja Keliling dan Digitalisasi
Pemkot juga menggencarkan bursa kerja keliling ke setiap kecamatan. Selain itu, platform digital dikembangkan agar pencari kerja bisa mengakses lowongan tanpa harus datang ke kantor dinas.
Setiap bulan, rata-rata 1.500 lowongan kerja dari berbagai perusahaan dipasang melalui sistem tersebut. Namun, angka ini masih jauh dari total pencari kerja yang mencapai hampir 100.000 orang.
Sektor Informal Jadi Penyelamat Sementara
Sebagian warga yang belum terserap di sektor formal terpaksa beralih ke sektor informal. Pemkot mendorong pengembangan UMKM sebagai alternatif penciptaan lapangan kerja mandiri.
Program kredit usaha rakyat dan pendampingan usaha kecil terus diperluas. Targetnya, setiap kelurahan memiliki sentra produk unggulan yang bisa menyerap tenaga kerja lokal.
Kolaborasi dengan Perusahaan Swasta
Pemkot juga menggandeng puluhan perusahaan swasta untuk membuka program magang bersertifikat. Program ini diharapkan menjadi jembatan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan pasar.
"Kami ingin lulusan pelatihan tidak hanya punya sertifikat, tapi juga pengalaman kerja nyata," tambah Kepala Disnaker.
Hingga saat ini, Pemkot Bandung mencatat sekitar 30.000 pencari kerja telah mengikuti program pelatihan dan bursa kerja sejak awal tahun. Sisanya masih dalam proses pendataan dan penempatan.