JAWA BARAT — Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno dan Sekretaris Negara Hubungan Luar Negeri (Wamenlu) Angola Esmeralda Bravo Conde da Silva Mendonça memimpin langsung pertemuan yang digelar Senin (15/6) di Jakarta tersebut. Dalam forum itu, kedua negara menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan bilateral yang telah berjalan selama 25 tahun, terutama setelah pembukaan Kedutaan Besar Angola di Jakarta pada 2025.
Dari Minyak Goreng hingga Vaksin: Sektor Prioritas yang Dikebut
Di sektor energi, kedua pihak menekankan pentingnya meningkatkan keterlibatan antara PT Pertamina dan perusahaan migas nasional Angola, Sonangol. Cakupan kerja sama meliputi pasokan minyak mentah, investasi hulu dan hilir, serta percepatan finalisasi MoU kerja sama bidang minyak dan gas bumi.
Tak hanya energi, Indonesia dan Angola juga mengidentifikasi agroindustri, pengolahan pangan, pupuk, perikanan, dan industri manufaktur ringan sebagai sektor potensial. Di bidang sosial budaya, kedua negara sepakat menjajaki kerja sama kesehatan, farmasi, riset vaksin, hingga produksi alat kesehatan.
Angola Dukung Kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM, RI Diminta Dukung Calon Dirjen FAO
Dalam forum tersebut, Angola menyampaikan dukungan dan apresiasi atas kepemimpinan Indonesia di Dewan Hak Asasi Manusia PBB tahun ini. Sebaliknya, Angola meminta dukungan Indonesia atas pencalonan diplomat senior Josefoa Sacko sebagai Direktur Jenderal FAO periode 2027-2031.
Kedua negara juga menyambut baik penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Joint Commission for Bilateral Cooperation. Mekanisme ini diharapkan menjadi kerangka kelembagaan untuk mengevaluasi kerja sama dan mengidentifikasi inisiatif kolaborasi baru lintas kementerian.
Presiden Angola Dijadwalkan Berkunjung ke Indonesia pada Agustus 2026
Untuk memperkuat hubungan di tingkat kepala negara, Presiden Angola João Manuel Gonçalves Lourenço direncanakan akan berkunjung ke Indonesia pada Agustus 2026. Kunjungan ini disebut-sebut menjadi momentum penting setelah pembukaan kedutaan besar Angola di Jakarta.
Saat ini, Angola telah membebaskan visa kunjungan singkat bagi warga negara Indonesia pemegang paspor biasa. Kedua negara juga mengapresiasi implementasi fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas.
"Kita Harus Mulai Saling Menjaga dan Mengandalkan Kekuatan Sendiri"
Wamenlu Havas menekankan bahwa Indonesia dan Angola tengah berupaya menjawab tantangan besar, mulai dari isu energi, keamanan, ketahanan pangan, hingga diversifikasi ekonomi domestik. "Ini adalah pekerjaan rumah yang besar bagi banyak negara. Di saat tatanan global mungkin tidak lagi terlalu memprioritaskan negara-negara Global South, inilah realitas yang harus kita hadapi: kita harus mulai saling menjaga dan mengandalkan kekuatan kita sendiri," ujarnya dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (18/6).
Menurut Havas, Angola dan Indonesia saling membutuhkan untuk mengelola tantangan bersama di tengah realitas tersebut. Indonesia juga mendorong partisipasi pelaku usaha Angola dalam berbagai pameran dagang di Indonesia, termasuk Trade Expo Indonesia 2026.
Pertemuan ke-3 Akan Digelar, Indonesia Incar Kerja Sama dengan Uni Afrika
Di penghujung konsultasi, kedua delegasi menyepakati penyelenggaraan Konsultasi Politik Indonesia-Angola ke-3 pada waktu dan tempat yang akan ditentukan melalui saluran diplomatik. Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Angola sebagai Ketua Uni Afrika tahun 2025 serta membuka peluang peningkatan keterlibatan dengan Uni Afrika, SADC, dan OACPS.
Peningkatan perdagangan bilateral pada 2025 turut mendorong kedua negara untuk mempercepat diversifikasi komoditas perdagangan dan perluasan kerja sama ekonomi. Kedua pihak sepakat bahwa forum konsultasi politik reguler dan koordinasi antarlembaga menjadi fondasi penting hubungan bilateral Indonesia-Angola ke depan.