JAWA BARAT — Pergerakan rupiah pada pagi ini kontras dengan tekanan yang terjadi sepanjang pekan lalu. Pada Kamis (25/6), rupiah masih terpuruk di level Rp17.967 per dolar AS setelah melemah 15 poin. Bahkan pada Rabu (24/6), depresiasi mencapai 0,40 persen ke Rp17.931 akibat kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed yang diproyeksikan bertahan sepanjang 2026.
Tekanan terbesar terjadi pada Senin (22/6) ketika rupiah ambles ke Rp17.813 per dolar AS. Saat itu, kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik AS-Iran menjadi pemicu utama pelemahan. Pasar modal dan uang domestik sempat mengalami aksi jual besar-besaran.
Katalis Baru: Penghentian Impor Solar 300 Ribu Barel Per Hari
Penguatan pagi ini tidak lepas dari kabar kebijakan strategis pemerintah yang akan menghentikan impor solar sebanyak 300 ribu barel per hari. Langkah ini diperkirakan akan mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS untuk pembayaran impor migas, yang selama ini menjadi salah satu beban utama neraca perdagangan Indonesia.
Jika kebijakan ini terealisasi penuh, penghematan devisa bisa mencapai miliaran dolar per tahun. Efek langsungnya terasa di pasar valas: pasokan dolar AS di dalam negeri bertambah, sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang. Pelaku pasar mulai menghitung ulang proyeksi kurs jangka pendek.
Sentimen Eksternal Masih Membayangi
Meski menguat, risiko dari eksternal belum sepenuhnya hilang. Data inflasi AS yang masih tinggi dan sikap hawkish The Fed membuat dolar AS tetap perkasa terhadap mayoritas mata uang Asia. Sepanjang pekan lalu, rupiah sempat kehilangan lebih dari 150 poin hanya dalam empat hari perdagangan.
Analis menilai penguatan pagi ini masih bersifat teknikal dan perlu dikonfirmasi oleh data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini. Jika cadangan devisa Indonesia menunjukkan perbaikan, rupiah berpotensi bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Level Kunci yang Dipantau Investor
Sepanjang Juni 2026, rupiah bergerak volatil dengan rentang Rp17.813 hingga Rp17.967 per dolar AS. Level support terdekat saat ini berada di Rp17.850, sementara resistance psikologis ada di Rp18.000. Pasar akan mencermati pergerakan dolar Asia lainnya dan hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN) pekan ini sebagai indikator kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.