JAWA BARAT — Abdullah Ibrahim bukan orang sembarangan. Ia instruktur resmi McLaren, pernah berkarier di Porsche dan Skip Barber, serta menjalankan layanan pelatihan independen bernama Ace Racer. Kesehariannya mengendalikan supercar, tapi pilihannya jatuh pada Toyota Echo—mobil ekonomi yang sudah jarang dilirik—untuk sebuah proyek bernama Echo Hot Lap Challenge.
Kepada The Drive, Abdul menceritakan awal mula proyek ini. Ia merasa dunia motorsport terlalu berorientasi pada mobil mahal dan flagship, seperti McLaren 720S atau Porsche 911 GT3. Padahal, menurut dia, esensi berkendara di lintasan seharusnya bisa diakses siapa saja.
"Saya seperti diindoktrinasi bahwa satu-satunya cara menikmati motorsport secara maksimal adalah dengan mobil flagship," ujar Abdul.
Mobil Ekonomi yang Diajak ke Lintasan
Echo yang dipakainya adalah coupe dua pintu berwarna silver-biru, ditemukan di sebuah peternakan di California Utara. Mobil ini sempat penuh kotoran tikus dan wiring harness putus sebelum akhirnya diperbaiki. Abdul bahkan membuat half cage dengan bantuan pemindaian 3D—biayanya disebut dua kali lipat dari harga mobil itu sendiri.
Yang membuat proyek ini menarik: Echo tetap memakai komponen standar. Ban berkode 700 treadwear, satu strut depan bocor, dan rem AutoZone yang sudah di ujung usia. Kondisi itu justru menghasilkan momen lucu di sirkuit.
Pembalap Cepat Justru Kesulitan di Mobil Lambat
Abdul mengundang banyak pembalap cepat yang biasanya mencatat waktu sekitar 1 menit 50 detik di Buttonwillow dengan mobil supercar mereka. Begitu masuk Echo, reaksi mereka seragam: mobil ini terasa lebih cepat dan lebih menegangkan, meski tenaganya jauh di bawah mobil yang biasa mereka kendarai.
Nik Romano dan Chris Rosales, dua nama yang akrab di kalangan penggemar otomotif, ikut ambil bagian. Nik bahkan berhasil mencetak waktu terbaik justru saat ban mobilnya sudah botak alias corded. "Kami mendapat data bahwa bentuk tercepat mobil ini justru dengan ban botak," kata Abdul sambil tertawa.
Mengapa Mobil Lambat Lebih Sulit Dikendarai
Menurut Abdul, mobil momentum seperti Echo justru lebih menantang daripada mobil bertenaga besar. Kehilangan momentum sedikit saja berarti kehilangan waktu yang signifikan. Setiap input setir dianggap sebagai pengereman, dan tekanan rem sedikit berlebih langsung terasa di waktu putaran.
"Mobil ini mengajarkan disiplin, konservasi energi, efisiensi input, presisi, dan cara memanfaatkan seluruh lebar lintasan," jelas Abdul. Hasilnya sering kali mengejutkan: pembalap yang lebih jarang ke sirkuit bisa mengalahkan mereka yang hafal setiap tikungan Buttonwillow.
Target ke Depan: Nürburgring dan Pembalap F1
Abdul punya ambisi jangka panjang untuk membawa Echo ini ke ajang 24 Hours of Nürburgring, sekaligus menantang Dacia Logan yang pernah tampil di sana. Impian terbesarnya adalah mengajak pembalap Formula 1 mencoba tantangan ini.
Bagi yang penasaran, Echo Challenge punya situs khusus berisi papan peringkat waktu putaran. Abdul juga aktif mengunggah video sesi latihan di kanal YouTube dan Instagram pribadinya, @agi_racing. Sirkuit Buttonwillow siap menerima siapa saja yang ingin mencoba—dengan catatan, siapkan nyali dan bawa mobil yang menurut Anda pantas untuk diajak melaju kencang.