GARUT — Pendidikan seni dan budaya di sekolah menengah tidak lagi bisa diposisikan sekadar sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau ajang pentas tahunan. Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Aten Munajat, menegaskan bahwa mata pelajaran dan pembiasaan budaya ini adalah instrumen kunci dalam membentuk generasi muda yang berintegritas di tengah gempuran era digital.
Pernyataan itu disampaikan Aten saat meninjau pelaksanaan pendidikan di Kabupaten Garut, Kamis. Ia menuturkan, Komisi V yang membidangi pendidikan, kesenian, dan kebudayaan terus mengawasi secara intensif pengajaran di tingkat SMA, SMK, dan sederajat di seluruh wilayah Jawa Barat.
Bukan Sekadar Tari dan Lagu, tapi Juga Etika Bergaul
Menurut Aten, penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah harus dimaknai lebih luas dari sekadar mengenalkan tarian adat atau kesenian daerah setempat. Materi budaya yang diajarkan juga mencakup penguatan sikap sosial sehari-hari antar pelajar.
"Nilai-nilai budaya yang ditanamkan tidak hanya terkait seni dan tradisi, tetapi juga mencakup sikap saling menghargai, saling menghormati, gotong royong, toleransi, disiplin, serta menghargai keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa," katanya.
Menjadi Benteng dari Pengaruh Negatif Teknologi
Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya ini bukan tanpa alasan. Aten menilai, sekolah harus menjadi filter pertama bagi pelajar dalam menyaring informasi yang mereka konsumsi setiap hari.
Ia menegaskan, upaya mengoptimalkan pengajaran tentang nilai-nilai budaya itu sebagai cara menangkal pengaruh negatif dari perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di kalangan pelajar. Tanpa fondasi karakter yang kuat, siswa rentan tergerus oleh konten-konten yang tidak mendidik.
Integrasi ke Kegiatan Harian dan Kolaborasi Seniman
Ia meminta sekolah tidak berhenti pada teori di dalam kelas. Pendidikan karakter berbasis budaya harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran maupun kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah dengan pembiasaan pelestarian kearifan lokal, dan kegiatan kreatif.
Langkah konkret yang disarankan adalah menggandeng para pegiat seni dan budayawan setempat. Keterlibatan mereka dinilai mampu memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai nilai autentik sebuah budaya.
"Kolaborasi dengan seniman dan budayawan daerah agar peserta didik memiliki jati diri yang kuat, tetap mencintai budaya bangsa, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman," katanya.
Aten berharap sekolah di Jawa Barat, khususnya Garut, mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik. Target utamanya adalah mencetak generasi yang berkarakter, berakhlak, menghargai perbedaan, dan bangga terhadap budaya Indonesia.
"Kemajuan zaman tidak mengikis nilai-nilai budaya, melainkan menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya bangsa kepada generasi muda," katanya.