JAWA BARAT — Volkswagen resmi mengumumkan Vision Efficiency sebagai penerus gagasan di balik XL1, hypermiler produksi terbatas yang dijual awal 2010-an. Berbeda dari XL1 yang hanya dibuat ratusan unit dengan biaya selangit, konsep terbaru ini dibangun di atas platform MEB+ yang sama dengan ID.Polo dan ID.Cross untuk pasar Eropa. Klaim "near production" itu sendiri yang membuat posisinya menarik dicermati.
Tiga Rekor Efisiensi Versi Record Institute Germany
Lembaga pencatat rekor asal Jerman itu menempatkan Vision Efficiency dalam kategori "kendaraan listrik empat penumpang mendekati produksi yang layak pakai sehari-hari". Kategori ini sebelumnya jadi ajang pembuktian Mercedes Vision EQXX pada 2022.
Dari tiga rekor yang diklaim, capaian efisiensi jarak jauh jadi yang paling signifikan:
- Koefisien hambatan udara (Cd) 0,158 — lebih rendah dari EQXX yang tercatat 0,17
- Efisiensi ideal 6,48 kWh per 100 km
- Efisiensi perjalanan dunia nyata 6,89 kWh per 100 km
Uji Jalan 1.287 Km, Hanya Sekali Isi Baterai
Pengujian berlangsung melintasi Jerman, Ceko, Polandia, dan Austria dengan jarak hampir 800 mil atau sekitar 1.287 kilometer. Baterai berkapasitas 54,9 kWh hanya diisi ulang satu kali selama perjalanan. Mobil masih menyisakan jarak tempuh 164 kilometer saat finis.
Setelah menghitung kerugian pengisian daya, konsumsi riil tercatat 7,51 kWh per 100 km atau setara 8,3 mil per kWh. Sebagai pembanding, Mercedes CLA produksi hanya mencapai sekitar 4,5 mil per kWh dalam pengujian dunia nyata. EQXX yang diklaim Mercedes mampu menembus 7,1 mil per kWh.
Desain Roda Tertutup dan Kompartemen Charger Tersembunyi
Seperti XL1 dan Honda Insight generasi pertama, Vision Efficiency menutup roda belakangnya demi menekan turbulensi udara. Solusi ini memberi siluet yang mengingatkan pada Citroen SM. Penutup roda itu ternyata sekaligus jadi tutup kompartemen penyimpanan tempat charger berada di dalam baki yang bisa ditarik keluar.
Berbagi Dapur Pacu dengan ID.Polo dan ID.Cross
Vision Efficiency memakai baterai dan motor listrik 133 tenaga kuda yang menggerakkan roda depan, sama seperti ID.Polo dan ID.Cross. Namun jangan berharap efisiensi sekelas konsep ini muncul di model produksi tersebut. Volkswagen menyatakan konsep ini sama efisiennya pada kecepatan 87 mph (140 km/jam) dengan ID.Polo pada 62 mph (100 km/jam).
Artinya, angka-angka rekor itu lahir dari paket aerodinamika ekstrem yang belum tentu lolos standar produksi massal. VW kemungkinan besar memakai Vision Efficiency sebagai etalase teknologi, bukan cikal bakal model jalanan. Pola yang sama diambil Mercedes dengan EQXX.
Kenapa Ini Relevan buat Pasar Indonesia?
Teknologi efisiensi baterai dan aerodinamika seperti ini perlahan merembes ke kendaraan listrik konsumen, termasuk yang dipasarkan di Indonesia. Setiap perbaikan Cd dan konsumsi kWh berdampak langsung pada jarak tempuh dan biaya pengisian yang ditanggung pengguna. Untuk saat ini, Vision Efficiency masih berstatus konsep, dan Volkswagen belum menyebut tanggal produksi maupun harga.