BANDUNG — Ratu Tisha Destria kembali ke kampus almamaternya, Institut Teknologi Bandung, bukan untuk mengenang masa kuliah, melainkan membedah cara membangun ekosistem sepak bola nasional dari akarnya. Dalam kuliah umum Studium Generale di Aula Barat ITB, Rabu (16/9/2026), perempuan yang kini menjabat Wakil Ketua Umum PSSI itu berbicara di depan sekitar 1.150 mahasiswa yang hadir luring dan daring dari Kampus Jatinangor serta Cirebon.
Ia membuka pemaparannya dengan pesan soal waktu. Menurut Tisha, menguasai satu bidang menuntut dedikasi jangka panjang, dan mahasiswa sebaiknya menentukan visi sedini mungkin.
"Kalau ingin memulainya, mulailah sekarang. Hasilnya mungkin baru akan kita rasakan 20 tahun kemudian," ujarnya.
Seleksi 2.500 Anak Papua hingga Terpilih 20 Pemain
Dalam pengembangan talenta, Tisha memaparkan proses pembinaan di Papua Football Academy (PFA). Identifikasi bakat dilakukan terhadap sekitar 2.500 anak dari 22 titik di Papua, lalu menyisakan 20 pemain yang masuk pembinaan.
Ia menegaskan seleksi tidak cukup memakai pendekatan linear yang sekadar menjumlahkan hasil tes fisik dan teknik. Sepak bola, katanya, terlalu kompleks untuk diukur dengan cara itu.
"Pendekatan yang dilakukan tidak boleh linear karena sepak bola itu kompleks," ujarnya.
Menurut Tisha, sepak bola bukan olahraga yang hanya mengandalkan kecepatan atau kekuatan fisik. Yang menentukan justru ketepatan dan kecepatan mengambil keputusan di lapangan.
"Ini bukan olahraga adu cepat, bukan olahraga adu kuat, bukan juga olahraga adu lompatan yang paling jauh. Ini adalah olahraga adu ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan," katanya.
Di titik itu, ilmu matematika yang ia pelajari di ITB dipakai untuk memetakan berbagai variabel keterampilan pemain. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuktikan ilmu kuliah bisa menjawab persoalan nyata.
"Walaupun ilmu tersebut terasa abstrak di awal, percayalah itu akan dipakai dalam aplikasi dunia nyata," ujarnya.
Latihan Kognitif: Oper Bola Sambil Hafal Warna Rompi
Setelah lolos seleksi, pemain muda PFA dibina dalam lingkungan latihan terkontrol dengan pendekatan cognitive training. Salah satu latihannya meminta pemain mengoper bola sambil mengenali warna rompi rekan setim secepat mungkin.
Latihan itu dirancang mengasah kemampuan motorik sekaligus pengambilan keputusan. Tisha menilai dua kemampuan tersebut tidak bisa dipisahkan dalam permainan sepak bola modern.
98 Pertandingan Uni League dan Efisiensi Penugasan Wasit
Selain pembinaan usia muda, Tisha menyoroti pentingnya membangun ekosistem kompetisi. Salah satu upayanya lewat Uni League, kompetisi yang dikembangkan untuk menghidupkan kembali sepak bola di lingkungan perguruan tinggi.
Penyelenggaraan Uni League melibatkan 98 pertandingan dan 427 mahasiswa. Dalam pengaturannya, ia menerapkan prinsip optimasi dan matematika diskrit, termasuk mengatur penugasan wasit agar efisien dari sisi anggaran tanpa menurunkan kualitas pertandingan.
Ia juga menginisiasi National Conference Football and Science (NCFS) sebagai ruang menghimpun kajian dan riset sepak bola dari perspektif sains, teknologi, dan manajemen.
Beras Ketan Hitam untuk Biayai Kompetisi Usia 13 Tahun
Di Desa Damar Wulan, Tisha mengembangkan program berbasis ekonomi sirkular. Melalui yayasan yang dikelolanya, lahan desa dimanfaatkan untuk budidaya beras ketan hitam.
Hasil budidaya itu kemudian dipakai menopang keberlangsungan kompetisi sepak bola usia 13 tahun di wilayah setempat. Menurutnya, pencapaian pribadi perlu diiringi kontribusi kepada masyarakat.
Alasan Tinggalkan Schlumberger dan Ambil FIFA Master
Perjalanan karier Tisha diwarnai sejumlah keputusan besar. Salah satunya ketika ia memilih meninggalkan karier di perusahaan multinasional Schlumberger dan melanjutkan pendidikan melalui program FIFA Master untuk memperdalam bidang sepak bola.
Dalam organisasi, ia menekankan pentingnya inovasi, teknologi, kerja sama tim, dan tanggung jawab bersama. Setiap orang dalam tim, katanya, tidak cukup hanya menyelesaikan tugas masing-masing, tetapi juga memastikan tujuan bersama tercapai.
Ia menganalogikannya dengan permainan sepak bola. Seorang pemain tidak berhenti berkontribusi setelah mengoper bola kepada rekannya.
Soal Shin Tae-yong dan Pencegahan Cedera Pemain
Pada sesi tanya jawab, peserta dari berbagai program studi mengajukan pertanyaan soal pembinaan dan masa depan sepak bola Indonesia. Menjawab pertanyaan mengenai pendekatan kepelatihan Shin Tae-yong, Tisha menyebut kondisi fisik pemain dan pencegahan cedera menjadi salah satu aspek yang diperhatikan.
Karena itu, menurutnya, proses pembinaan tidak hanya berfokus pada taktik dan teknik, tetapi juga kesiapan fisik agar pemain terhindar dari cedera berkepanjangan.