BANDUNG — Industri pengolahan menyumbang 98,58 persen dari total nilai ekspor Jawa Barat pada sembilan bulan pertama 2026. Kontribusi sektor itu membuat produk manufaktur tetap jadi andalan provinsi ini di pasar internasional.
Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan capaian tersebut di Bandung, Senin (2/11/2026). Menurutnya, kinerja perdagangan luar negeri Jabar sepanjang Januari–September 2026 bergerak positif.
Kendaraan hingga Perhiasan Jadi Komoditas Andalan
BPS Jabar mencatat sejumlah komoditas nonmigas utama yang menopang ekspor. Golongan kendaraan dan bagiannya berada di urutan teratas, disusul mesin serta perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, hingga perhiasan dan permata.
"Komoditas utama nonmigas andalan ekspor meliputi golongan kendaraan dan bagiannya, mesin serta perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, hingga perhiasan dan permata," kata Ari.
Industri kendaraan bermotor, komponen elektronik, dan mesin disebut menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan luar negeri Jabar. Produk-produk itu memiliki pasar di berbagai negara.
Amerika Serikat Pimpin Pasar Nonmigas Jabar
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menempati posisi teratas sebagai pasar ekspor nonmigas Jawa Barat. Nilai ekspor ke Negeri Paman Sam mencapai 5,28 miliar dolar AS selama Januari–September 2026.
Posisi AS itu tercatat berdasarkan data BPS Jawa Barat. Angka tersebut menjadikan AS kontributor terbesar di antara negara tujuan ekspor nonmigas Jabar.
Surplus 22,088 Miliar Dolar AS Menopang Ekonomi Nasional
Neraca perdagangan Jabar membukukan surplus 22,088 miliar dolar AS pada periode yang sama. Nilai ekspor 31,218 miliar dolar AS menjadi penopang utama capaian tersebut.
BPS Jabar menilai kinerja perdagangan luar negeri ini turut menopang aktivitas perekonomian nasional. Kuatnya sektor industri pengolahan disebut sebagai faktor utama di balik tren positif itu.
Pertumbuhan ekspor 8,06 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya menunjukkan permintaan pasar internasional terhadap produk Jabar masih terjaga. Data kumulatif ini mencakup seluruh komoditas ekspor, baik migas maupun nonmigas.