PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatatkan pertumbuhan signifikan pada layanan penyeberangan perintis di wilayah 3TP dengan total 93.000 perjalanan sepanjang 2025. Capaian yang tumbuh 11 persen secara tahunan ini dibarengi dengan keberhasilan perusahaan menekan angka kecelakaan kapal hingga di bawah target moderat. Transformasi operasional ini memperkuat peran BUMN pelayaran tersebut sebagai tulang punggung logistik nasional di wilayah terluar Indonesia.
Kinerja operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menunjukkan tren positif di tengah dinamika industri transportasi laut yang menantang. Perusahaan berhasil melampaui target layanan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP) sekaligus menjaga rasio keselamatan pelayaran. Momentum penguatan kinerja ini dipublikasikan bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 perusahaan di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Ekspansi Konektivitas di Wilayah 3TP
Hingga tutup tahun 2025, ASDP melaporkan volume perjalanan pada rute perintis mencapai lebih dari 93 ribu perjalanan. Angka ini mencerminkan kenaikan 11 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator penting bagi geliat ekonomi di wilayah pelosok yang selama ini mengandalkan jalur laut sebagai urat nadi distribusi barang dan mobilisasi penduduk.
Sektor angkutan kendaraan juga mencatatkan rapor hijau dengan kenaikan volume sebesar 15 persen. Secara total, ASDP telah menyeberangkan lebih dari 556 ribu unit kendaraan di berbagai lintasan nusantara. Peningkatan trafik ini menunjukkan efektivitas strategi perusahaan dalam mengoptimalkan kapasitas kapal dan jadwal keberangkatan guna merespons tingginya permintaan mobilitas masyarakat pascapandemi.
Keberhasilan melampaui target operasional ini tidak lepas dari digitalisasi layanan dan modernisasi infrastruktur pelabuhan. Dengan volume kendaraan yang terus mendaki, manajemen fokus pada percepatan waktu bongkar muat (port time) agar antrean di pelabuhan tetap terkendali, terutama pada periode puncak libur nasional.
Menjaga Rasio Keselamatan Pelayaran
Di balik ekspansi layanan yang agresif, aspek keselamatan tetap menjadi parameter utama performa manajemen. Sepanjang tahun 2025, ASDP mencatat tingkat kecelakaan kapal sebesar 0,220 persen. Angka ini lebih baik dari plafon toleransi yang ditetapkan perusahaan sebesar 0,230 persen. Tercatat hanya terjadi lima insiden pelayaran dari puluhan ribu perjalanan yang dilakukan sepanjang tahun.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menekankan bahwa standar keselamatan merupakan harga mati dalam operasional penyeberangan. Menurutnya, pencapaian angka keselamatan di bawah target perusahaan bukan berarti manajemen bisa melonggarkan pengawasan di lapangan.
"Keselamatan tidak boleh dianggap selesai. Ini harus menjadi kesadaran kolektif dan prioritas utama dalam setiap lini pelayanan dan operasional kita. Melalui HUT ke-53 ini, kami ingin memperkuat semangat bahwa ASDP tidak hanya hadir menghubungkan antarpulau, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Heru Widodo di Kantor Pusat ASDP, Jakarta.
Filantropi dan Keberlanjutan Lingkungan
Menandai usia lebih dari setengah abad, perusahaan menggelar ASDP Charity Run sebagai bagian dari program "ASDP Berdampak". Seluruh dana yang terkumpul dari kegiatan ini dialokasikan untuk program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang terukur. Fokus bantuan diarahkan pada penguatan aspek keselamatan publik dan pelestarian ekosistem pesisir.
Manajemen menyalurkan bantuan berupa jaket pelampung (life jacket) untuk mendukung keselamatan pelayaran rakyat di sekitar wilayah operasional. Selain itu, aksi penanaman mangrove dilakukan secara masif sebagai langkah konkret mendukung dekarbonisasi dan perlindungan garis pantai dari abrasi. Program ini sejalan dengan mandat pemerintah agar BUMN menjadi pionir dalam pembangunan berkelanjutan.
Langkah ASDP mengintegrasikan kinerja bisnis dengan dampak sosial diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap moda transportasi penyeberangan. Dengan fundamental operasional yang kokoh di tahun 2025, perusahaan kini menatap target yang lebih tinggi untuk memperpendek disparitas harga logistik antarwilayah di Indonesia melalui konektivitas laut yang andal.