JAWA BARAT — Instruksi Presiden Prabowo kepada Erick Thohir soal persiapan Timnas Indonesia untuk Piala Dunia 2030 disampaikan di sela-sela acara pembekalan menteri Kabinet Merah Putih di Magelang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Arahan ini bukan sekadar formalitas, melainkan target konkret sepak bola Indonesia dalam satu dekade ke depan.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang. Ia tidak ingin persiapan dilakukan secara mendadak atau sporadis. Menurutnya, pencapaian lolos ke Piala Dunia membutuhkan fondasi yang kokoh dari sekarang.
Prabowo Minta Ada Peta Jalan yang Detail
Erick Thohir mengungkapkan bahwa Presiden meminta adanya peta jalan (roadmap) yang jelas untuk setiap kelompok usia timnas. "Bapak Presiden meminta saya mempersiapkan betul. Beliau ingin ada program yang terstruktur mulai dari U-17, U-20, hingga tim senior," ujar Erick usai acara pembekalan.
Prabowo, menurut Erick, juga menyoroti pentingnya pembinaan pemain muda sebagai investasi utama. Tanpa regenerasi yang baik, target Piala Dunia 2030 hanya akan menjadi wacana. Erick mengaku arahan ini sejalan dengan program PSSI yang tengah merombak sistem kompetisi usia muda.
Dukungan Penuh Pemerintah untuk Sepak Bola
Instruksi ini menandai komitmen pemerintah terhadap sepak bola Indonesia yang tak lagi sekadar retorika. Sebelumnya, Prabowo juga telah menyetujui pembangunan pusat pelatihan (training center) Timnas Indonesia di Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung program naturalisasi dan pembinaan pemain diaspora.
Erick menegaskan bahwa persiapan tidak hanya berfokus pada tim senior. PSSI saat ini tengah mematangkan program road to 2030 yang mencakup peningkatan kualitas wasit, kompetisi liga, dan fasilitas latihan. "Ini bukan proyek jangka pendek. Kita harus kerja keras dan konsisten," kata Erick.
Peluang dan Tantangan Menuju Piala Dunia 2030
Piala Dunia 2030 akan digelar di tiga negara: Maroko, Portugal, dan Spanyol. Jatah Asia untuk turnamen tersebut diperkirakan bertambah menjadi 9,5 tiket. Dengan persaingan yang ketat, Timnas Indonesia harus bersaing dengan raksasa Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Namun, dengan adanya instruksi langsung dari Presiden, Erick Thohir kini memiliki modal politik yang kuat untuk mendorong reformasi sepak bola nasional. Pertanyaannya, bisakah konsistensi program dijaga hingga 2030? Waktu akan menjawab.