Pencarian

Ferrari dan BMW Ikuti Langkah Tesla, Beralih ke Kabel Aluminium demi Bobot Lebih Ringan dan Biaya Lebih Murah

Rabu, 01 Juli 2026 • 05:21:01 WIB
Ferrari dan BMW Ikuti Langkah Tesla, Beralih ke Kabel Aluminium demi Bobot Lebih Ringan dan Biaya Lebih Murah
Ferrari dan BMW resmi beralih menggunakan kabel aluminium untuk sistem kelistrikan kendaraan mereka.

JAWA BARAT — Produsen mobil premium dunia mulai meninggalkan tembaga sebagai bahan baku utama sistem kelistrikan. Ferrari dan BMW menjadi nama terbaru yang mengonfirmasi peralihan ke aluminium, material yang dinilai lebih ekonomis dan ringan. Langkah ini memperkuat tren yang sebelumnya dimulai oleh Tesla pada 2019 lewat Model Y.

Harga Tembaga Melonjak, Aluminium Jadi Pilihan Ekonomis

Faktor utama di balik peralihan ini adalah lonjakan harga tembaga yang sempat mendekati 15.000 dolar AS per ton pada awal tahun ini. Sementara itu, harga aluminium bertahan di kisaran 3.100 dolar AS per ton. Selisih harga yang mencapai lebih dari 4,2 kali lipat ini membuat aluminium semakin menarik secara ekonomis.

JPMorgan memproyeksikan peralihan ini akan memengaruhi sekitar 2 persen permintaan tembaga global pada 2026. Angka tersebut berpotensi naik menjadi 6 persen pada 2030 seiring dengan meningkatnya kebutuhan logam untuk transisi energi dan pembangunan pusat data.

Ferrari: Bukan Sekadar Soal Harga, Tapi Performa

Ferrari mulai menggunakan kabel aluminium pada model sport hibrida 296 sejak tahun lalu. Material ringan ini kemudian diperluas ke model Luce, kendaraan listrik perdana mereka yang baru diperkenalkan.

“Kami tidak memilih aluminium semata karena lebih murah, tetapi karena material ini memberikan kinerja yang lebih baik untuk kebutuhan tertentu,” ujar Dario Esposito, eksekutif komunikasi Ferrari, kepada Reuters. Menurutnya, penggunaan aluminium mampu mengurangi bobot sistem kabel hingga sekitar 20 persen, memberikan keuntungan langsung pada performa kendaraan.

BMW Lebih Dulu, Stellantis Menyusul

BMW ternyata sudah lebih dulu mengadopsi konduktor aluminium sejak 2011 pada model Seri 1. Pabrikan asal Jerman ini secara bertahap memperluas penggunaannya ke kendaraan hibrida dan listrik, termasuk pada teknologi eDrive generasi terbaru yang diperkenalkan tahun lalu.

Stellantis, induk merek seperti Jeep dan Peugeot, juga dilaporkan mulai mengganti kabel tembaga dengan aluminium meski belum memberikan pernyataan resmi. Di China, pabrikan seperti AVATR, XPeng, dan Xiaomi disebut telah mengadopsi pendekatan serupa yang diperkenalkan Tesla.

Bobot Lebih Ringan, Tantangan Konduktivitas

Meski aluminium menawarkan keunggulan bobot dan biaya, material ini memiliki konduktivitas listrik yang lebih rendah dibanding tembaga. Konsekuensinya, produsen harus menggunakan volume material yang lebih besar untuk menghasilkan daya hantar yang sama. Proses produksi aluminium juga membutuhkan energi yang relatif tinggi.

Namun, bagi industri kendaraan listrik, bobot yang lebih ringan menjadi nilai jual strategis. Pengurangan bobot sistem kelistrikan berkontribusi langsung pada efisiensi energi dan jarak tempuh kendaraan — faktor krusial yang dicari konsumen EV.

Tren Substitusi Merambah ke Sektor Lain

Peralihan dari tembaga ke aluminium tidak hanya terjadi di industri otomotif. Sektor manufaktur kabel listrik, pendingin udara, dan sistem pemanas juga mulai mengadopsi logam ringan ini. Hydro, produsen aluminium asal Norwegia, mencatat peningkatan permintaan produk substitusi tembaga dalam beberapa tahun terakhir.

Analis menilai tren ini akan terus menguat seiring dengan kenaikan harga tembaga yang diprediksi masih berlanjut. Keputusan Ferrari dan BMW menjadi sinyal kuat bahwa aluminium kini bukan lagi sekadar alternatif murah, melainkan pilihan material masa depan untuk industri otomotif global.

Bagikan
Sumber: money.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks