Pencarian

Proses Normalisasi Jadi Penyebab Air Tak Langsung Mengalir Usai Perbaikan Pipa di Sumedang, Ini Penjelasan Teknis Direktur Tirta Medal

Jumat, 17 Juli 2026 • 11:47:44 WIB
Proses Normalisasi Jadi Penyebab Air Tak Langsung Mengalir Usai Perbaikan Pipa di Sumedang, Ini Penjelasan Teknis Direktur Tirta Medal
Proses normalisasi tekanan air dilakukan secara bertahap setelah perbaikan pipa utama di Sumedang selesai.

SUMEDANG — Selesainya pekerjaan penyambungan pipa utama tidak otomatis membuat keran warga langsung mengalir deras. Perumda Air Minum Tirta Medal Sumedang menyebut ada proses normalisasi yang harus dilalui secara bertahap agar tekanan air kembali stabil dan tidak memicu kerusakan baru pada jaringan.

“Setelah perbaikan selesai, jaringan pipa tidak bisa langsung dialiri air dengan tekanan penuh. Ada tahapan normalisasi yang harus dilakukan agar distribusi air berlangsung aman dan tidak menimbulkan kerusakan baru,” ujar Direktur Perumda Tirta Medal Sumedang, Hj Imas Permasih, di kantornya, Jumat (17/7).

Udara di Dalam Pipa Harus Dikeluarkan Bertahap

Selama proses perbaikan, pipa utama yang membentang hingga beberapa kilometer berada dalam kondisi kosong dan dipenuhi udara. Imas menjelaskan, saat air mulai dialirkan kembali, udara di dalam pipa harus dikeluarkan secara perlahan.

Jika air dipaksa mengalir dengan tekanan tinggi sejak awal, dapat memicu fenomena water hammer atau hentakan air. Risikonya, kebocoran bahkan pecahnya pipa bisa terjadi.

“Karena itu pengisian pipa dilakukan secara perlahan. Proses ini memang membutuhkan waktu beberapa jam hingga tekanan benar-benar stabil,” terang Imas.

Topografi Wilayah Pengaruhi Kecepatan Aliran

Faktor kontur tanah di Sumedang turut menentukan pelanggan mana yang kebagian air lebih dulu. Imas menyebut, wilayah dengan elevasi rendah umumnya akan menerima aliran lebih cepat.

Sementara kawasan yang berada di dataran lebih tinggi membutuhkan tekanan yang lebih besar sehingga waktu pemulihannya lebih lama. “Air mengikuti prinsip hidrolika. Daerah yang lebih tinggi tentu memerlukan tekanan yang cukup agar air bisa mencapai rumah-rumah pelanggan,” jelas Imas.

Ribuan Pelanggan Buka Keran Bersamaan, Tekanan Langsung Turun

Faktor lain yang memperlambat pemulihan adalah perilaku pelanggan. Begitu distribusi mulai dibuka, ribuan pelanggan di wilayah terdampak—seperti Jatihurip, Asabri, Andir dan sekitarnya—langsung membuka keran untuk mengisi bak penampungan atau toren yang sebelumnya kosong.

Akibatnya, tekanan air di jaringan utama langsung menurun drastis. Aliran menuju wilayah yang lebih jauh maupun lebih tinggi menjadi lebih lambat karena volume air terbagi ke banyak titik secara serempak.

“Fenomena ini sangat wajar terjadi setelah gangguan distribusi. Ketika semua pelanggan menggunakan air secara bersamaan, tekanan di jaringan akan turun sehingga proses normalisasi membutuhkan waktu lebih lama,” ujar Imas.

Bagikan
Sumber: sumedang.jabarekspres.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks