BANDUNG — Industri pakaian dan tekstil Jawa Barat menemukan penopang di tengah guncangan ekonomi global. Tren print on demand tumbuh 3-4 persen, didorong permintaan jersey eksklusif untuk acara lari dan komunitas otomotif di Bandung.
BANDUNG — Industri pakaian dan tekstil Jawa Barat menemukan penopang di tengah guncangan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar. Tren busana cepat berbasis cetak sesuai permintaan alias print on demand mencatatkan pertumbuhan tiga hingga empat persen. Pertumbuhan ini ditopang tingginya permintaan jersey eksklusif untuk acara lari dan komunitas otomotif di Bandung.
Fenomena ini menjadi penyeimbang perlambatan manufaktur tekstil konvensional. Sektor tersebut tengah tertekan persaingan harga dari Vietnam dan Bangladesh. Hal ini diungkapkan Direktur Moremedia Indonesia Bryan W Arsaha pada Rabu (4/9) di sela pameran Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 di Bandung Convention Centre.
Jersey untuk Acara Lari Jadi Sumber Cuan Baru UMKM
"Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya berbasis print on demand atau custom printing. Itu yang sekarang sedang naik pesat," kata Bryan.
"Setiap ada acara olahraga lari, kostum jerseinya baru. Komunitas otomotif juga punya kostumnya masing-masing. Permintaannya sangat tinggi," sambungnya.
Pelaku UMKM menilai pasar eksklusif ini memiliki daya beli tinggi. Pesanan mereka juga tidak terpengaruh fluktuasi ekonomi. Biasanya, mereka memesan dalam jumlah kecil dengan desain unik—sesuatu yang tidak bisa dipenuhi industri tekstil konvensional yang mengandalkan produksi massal.
Teknologi Cetak Ramah Lingkungan Menopang Tren
Evolusi teknologi direct to garment turut menopang tren ini. Mesin modern kini menggunakan tinta eco-solvent yang lebih ramah lingkungan. Teknologi ini juga mendukung pengolahan limbah kain sisa melalui metode upcycle.
Dengan teknologi tersebut, pengusaha distro dan brand lokal bisa memproduksi dalam jumlah kecil. Mereka tidak perlu menanggung biaya besar untuk stok menumpuk. Model ini dinilai lebih efisien di tengah tekanan biaya produksi.
Pameran di Bandung Memotong Rantai Distribusi
Untuk menjawab isu efisiensi biaya, IAPE 2026 digelar di Bandung pada 2-5 September. Pameran ini memboyong 20 perusahaan dengan 50 merek teknologi mesin pakaian. Langkah ini memotong rantai perantara distribusi.
Founder IAPE, Aulia Sunhandhyka, mengatakan, inisiatif ini memungkinkan pengusaha distro, merek lokal, serta UMKM daerah mengakses mesin dan bahan baku tanpa harus ke Jakarta.
Kampus dan SMK Tata Busana Sinkronkan Kurikulum
Momentum inovasi ini juga melibatkan institusi pendidikan vokasi di Jawa Barat. SMK Tata Busana, ISBI, hingga Islamic Fashion Institute (IFI) Bandung turut berpartisipasi. "Keterlibatan kalangan akademisi penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri," ujar Aulia.
Dengan demikian, perkembangan bisnis apparel berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Lulusan vokasi diharapkan langsung siap kerja di industri yang tengah bertumbuh ini.
Usulan: Unit Percetakan Desa Jadi Mesin Ekonomi Baru
Sementara itu, Ketua Komunitas Praktisi Grafika Indonesia (Kopi Grafika) Usman Batubara mendorong pemerintah membentuk unit percetakan mandiri di tingkat desa atau kecamatan. Menurutnya, lini cetak merupakan kebutuhan seumur hidup yang menopang nilai jual produk kreatif. Cakupannya luas, mulai dari pakaian hingga kemasan ekspor.
"Sekarang semua produk dikemas untuk meningkatkan nilai jual, dan di belakangnya selalu ada percetakan. Jika setiap kecamatan memiliki unit percetakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan seragam atau sekolah di wilayahnya, ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa di Jawa Barat," tutur Usman.
Selain sesi bisnis, IAPE 2026 menghadirkan live demo mesin dan 10 sesi talkshow bertajuk Apparel Talk dengan 15 narasumber. Pameran ini menyasar pengusaha distro, fashion designer, online shop apparel, hingga civitas akademika. Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran pengunjung dapat diakses melalui situs resmi penyelenggara.