Pencarian

Dinkes Jabar Sebut Angka Kematian Ibu 88 per 100.000 Kelahiran, di Bawah Nasional 122

Senin, 28 September 2026 • 08:01:02 WIB
Dinkes Jabar Sebut Angka Kematian Ibu 88 per 100.000 Kelahiran, di Bawah Nasional 122
Kepala Dinkes Jawa Barat menyatakan rasio kematian ibu di Jabar turun menjadi 88 per 100.000 kelahiran hidup.

BANDUNG — Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Raden Vini Adiani Dewi meminta persoalan kematian ibu dilihat secara proporsional. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara jumlah kasus secara absolut dan rasio kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.

Vini menyampaikan hal itu menanggapi sorotan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyebut Jawa Barat sebagai salah satu daerah dengan angka kematian ibu dan bayi tertinggi. Sorotan itu muncul dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI.

Rasio Kematian Ibu Jabar Turun dari 97 ke 88 per 100.000 Kelahiran

Menurut Vini, rasio kematian ibu di Jawa Barat menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Angka terbaru berada di 88 per 100.000 kelahiran hidup, turun dari 97 per 100.000 pada periode sebelumnya.

"Ya, dari tahun kemarin kita 97, turun sekarang udah di 88 per 100.000 kelahiran hidup," kata Vini.

Ia menegaskan capaian itu berada di bawah angka nasional. Data Dinkes Jabar menempatkan rata-rata nasional di kisaran 122 per 100.000 kelahiran hidup.

"Nasional sekarang 120-an per 100.000, kita udah di 88," ujarnya.

Mengapa Jumlah Kasus Absolut Jawa Barat Terlihat Tinggi

Vini menjelaskan, sekitar 20 persen penduduk Indonesia berada di Jawa Barat. Kondisi itu membuat jumlah kasus kematian ibu secara absolut otomatis lebih besar dibandingkan provinsi lain.

"Jadi Kemenkes itu menyatakan kenapa tertinggi, ya karena jumlah penduduk kita tertinggi. Jadi kalau Jawa Barat mah semua tertinggi, karena jumlah penduduknya tertinggi," ucapnya.

Ia menekankan indikator epidemiologis kematian ibu dihitung memakai rasio per 100.000 kelahiran hidup, bukan jumlah kasus mentah. Dengan metode itu, kata Vini, posisi Jawa Barat justru lebih baik dari gambaran yang terbaca dari angka absolut.

"Atuh bayangin, 20 persen (penduduk) Indonesia ada di Jawa Barat dan dihitungnya per 100.000, berarti kan otomatis prevalensinya jadi tertinggi. Tapi secara data riil kita justru jauh," tuturnya.

Penurunan Sekitar 100 Kasus dari 2024 ke 2025

Selain rasio, Vini menyebut jumlah kasus kematian ibu juga menurun. Berdasarkan data yang dimilikinya, terjadi pengurangan sekitar 100 kasus dari 2024 ke 2025.

"Tahun ini tuh turun sampai 100 kasus aja dari 2024 ke 2025. Malah 2026 ini kita semoga turun terus, kan dihitungnya per tahun ya," kata Vini.

Dinkes Jabar berharap tren penurunan berlanjut sepanjang 2026. Penghitungan dilakukan per tahun, sehingga capaian akhir baru bisa dipastikan setelah periode berjalan selesai.

Sorotan Menkes di Rapat Kerja Komisi IX DPR RI

Menkes Budi Gunadi Sadikin lebih dulu menyoroti angka kematian ibu dan bayi nasional dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (14/9). Ia menyebut persoalan ini masih menjadi tantangan kesehatan Indonesia dibandingkan negara ASEAN.

"Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya," kata Budi dalam rapat tersebut.

Budi menyebut angka kematian bayi di Indonesia mencapai sekitar 30 ribu kasus per tahun. Sementara angka kematian ibu berada di kisaran 4.000 kasus per tahun.

Jawa Barat turut disorot dalam rapat itu. Budi menyatakan ada tiga kota dan tiga kabupaten di Jawa Barat dengan angka kematian ibu dan bayi paling tinggi, yang menurutnya terjadi di rumah sakit paripurna.

"Jawa Barat tuh termasuk yang paling tinggi angkanya. Dan itu jadi di rumah sakit paripurna. Ada tiga kota, tiga kabupaten di Jawa Barat yang paling tinggi," ucapnya.

Follow jabarklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks