JAWA BARAT — Setelah menguji Sony Bravia Theater Bar 7 selama sepekan di ruang media, kami menemukan soundbar ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, kejernihan dialog dan desainnya yang ramping patut diacungi jempol. Di sisi lain, performa bass yang kurang greget dan ketiadaan fitur kunci membuatnya terasa kurang seimbang untuk harga Rp 13,9 juta (US$ 869,99 / £699 / AU$1.199).
Desain Ringkas dan Kemudahan Setup
Sony mendesain ulang lini soundbar terbarunya dengan pendekatan minimalis. Bravia Theater Bar 7 hanya memiliki lebar 37,5 inci dengan tinggi 2,6 inci, membuatnya mudah diletakkan di depan TV tanpa menghalangi sensor remote. Remote yang disertakan juga lebih sederhana dengan tombol lebih sedikit, memberikan kesan ramah bagi pengguna awam.
Fitur 360 Spatial Sound Mapping dari Sony menjadi salah satu nilai jual utama. Teknologi ini diklaim sebagai sistem koreksi ruangan termudah yang pernah ada di soundbar. Cukup jalankan setup melalui aplikasi, soundbar akan menyesuaikan output suara dengan kondisi ruangan secara otomatis.
Keunggulan Utama: Dialog Super Jernih
Keunggulan paling menonjol dari Theater Bar 7 adalah performa dialognya. Saluran tengah (center channel) mampu memisahkan suara ucapan dari efek latar dengan sangat baik. Di era di mana banyak film modern justru mengubur dialog di bawah musik latar dan efek suara, Sony layak mendapat nilai tinggi untuk aspek ini. Suara vokal terdengar tajam, jernih, dan mudah diikuti bahkan di adegan penuh aksi sekalipun.
Soundbar ini juga dibekali driver up-firing untuk efek ketinggian (height channel) dan driver side-firing untuk suara surround. Saat memutar konten Dolby Atmos atau DTS:X, panggung suara terasa lebih lebar dan tinggi dibanding speaker biasa. Namun, untuk akurasi penempatan efek spesifik seperti suara tembakan atau bisikan, performanya masih di bawah ekspektasi di kelas harga ini.
Kelemahan Kritis: Bass Kurang dan Minim Kustomisasi
Masalah terbesar Theater Bar 7 ada pada sektor low-end. Sony menghilangkan subwoofer internal yang sebelumnya ada di generasi pendahulu. Akibatnya, dentuman ledakan atau suara kendaraan di film laga terasa kurang berbobot. Bahkan dengan pengaturan bass di level maksimal, sensasi sinematik yang diharapkan dari soundbar seharga belasan juta rupiah ini masih kurang terasa.
Solusinya adalah membeli subwoofer eksternal Bravia Theater Sub 7 seharga Rp 5,4 jutaan (US$ 329). Jika dibeli paket, harganya lebih murah sekitar Rp 3,8 jutaan. Tapi tentu saja, ini menghilangkan nilai kepraktisan soundbar all-in-one.
Lebih menjengkelkan lagi, Sony tidak menyediakan equalizer atau preset suara apapun. Pengguna tidak bisa menyesuaikan level treble, bass, atau masing-masing channel. Jika menurut Anda suara terlalu dominan di frekuensi tinggi (treble), tidak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya.
Fitur yang Dihilangkan Cukup Banyak
Dibanding generasi sebelumnya, Sony memangkas sejumlah fitur penting di Theater Bar 7. Tidak ada dukungan Bluetooth codec hi-res, tidak ada koneksi headphone nirkabel, tidak ada Chromecast, tidak ada kompatibilitas Google Assistant atau Amazon Alexa, dan tidak ada pemutaran melalui USB atau UPnP. Bagi pengguna yang gemar streaming musik hi-res, ini menjadi batasan signifikan.
Koneksi fisik hanya mengandalkan satu port HDMI input dan satu port HDMI eARC. Kabar baiknya, fitur HDMI passthrough masih tersedia — sesuatu yang mulai langka di soundbar modern. Sony juga menyertakan semua kabel yang dibutuhkan dan perlengkapan wall-mount.
Perbandingan: Terjepit di Antara Dua Pilihan Lebih Baik
Posisi Theater Bar 7 sungguh aneh. Adiknya, Bravia Theater Bar 6 (Rp 11,2 jutaan), meski tidak bisa diperluas dengan speaker surround, sudah menyertakan subwoofer nirkabel yang memberikan dentuman lebih memuaskan langsung dari kotak.
Sementara itu, kakaknya, Bravia Theater Bar 8 (Rp 16 jutaan), memiliki subwoofer internal yang lebih bertenaga dan opsi ekspansi yang sama. Untuk selisih harga sekitar Rp 2,1 juta, pengguna mendapatkan bass yang jauh lebih sinematik tanpa perlu membeli aksesori tambahan.
Kesimpulan: Untuk Siapa Soundbar Ini?
Sony Bravia Theater Bar 7 cocok untuk penghuni apartemen dengan dinding tipis yang sangat mengutamakan kejernihan dialog. Karena bass-nya tidak dalam, risiko komplain dari tetangga atas suara dengung rendah bisa diminimalkan.
Namun, jika Anda menginginkan pengalaman sinematik penuh dari satu perangkat tanpa ribet, lompat saja ke Bravia Theater Bar 8. Atau, pertimbangkan pesaing seperti Klipsch Flexus Core 200 yang harganya lebih terjangkau namun menawarkan tenaga dan immersi lebih baik — meski tanpa konektivitas Wi-Fi.
Dengan skor akhir 3 dari 5 untuk performa dan value, Theater Bar 7 adalah langkah maju untuk desain dan kejernihan, tapi langkah mundur untuk urusan bass dan fitur. Di pasar soundbar yang semakin kompetitif, setengah-setengah seperti ini sulit direkomendasikan.