JAWA BARAT — Gugatan Apple terhadap OpenAI mengungkap praktik perekrutan yang dinilai tidak etis. Dokumen pengadilan yang diajukan pekan lalu menyebutkan bahwa OpenAI secara sistematis meminta mantan karyawan dan calon pegawai Apple untuk membagikan detail rahasia produk yang belum dirilis.
Jumlahnya tidak sedikit. Apple mengklaim lebih dari 400 eks karyawannya kini bernaung di OpenAI. Angka ini setara dengan hampir separuh total tenaga kerja OpenAI yang diperkirakan mencapai 1.000 orang.
Panduan Menghindari Keamanan Internal Apple
Bagian paling serius dari gugatan ini adalah tuduhan soal modus perekrutan. Apple menyatakan OpenAI memberikan panduan khusus kepada para rekrutan tentang cara menghindari prosedur keamanan internal Apple.
Panduan tersebut, menurut dokumen gugatan, dikembangkan oleh mantan kepala desain iPhone Apple. OpenAI disebut menggunakan semacam daftar periksa (checklist) yang dirancang khusus untuk membantu calon pegawai melewati sistem deteksi kebocoran informasi Apple tanpa ketahuan.
Paket Kompensasi Besar Jadi Magnet
Apple menuding OpenAI menggunakan uang sebagai alat utama untuk membajak talenta. Perusahaan yang didukung Microsoft itu disebut menawarkan paket kompensasi yang jauh di atas rata-rata industri untuk menarik minat para insinyur dan desainer Apple.
Strategi ini dinilai efektif. Dalam waktu relatif singkat, OpenAI berhasil mengumpulkan tim yang sebagian besar anggotanya familiar dengan proses pengembangan produk rahasia Apple, mulai dari desain chip hingga mekanisme kamera.
Dampak ke Rencana Perangkat Keras OpenAI
Gugatan ini muncul di saat OpenAI tengah serius mengembangkan perangkat keras konsumen pertamanya. Perusahaan yang populer lewat ChatGPT itu dikabarkan sedang menggarap perangkat AI khusus yang bisa menjadi pesaing langsung produk Apple.
Jika tuduhan Apple terbukti di pengadilan, pengembangan perangkat keras OpenAI bisa terganggu. Proses hukum berpotensi membatasi akses OpenAI terhadap talenta baru dari Apple, atau bahkan memaksa perusahaan memberhentikan karyawan yang terbukti melanggar perjanjian kerahasiaan.
Apple sendiri dikenal sangat protektif terhadap rahasia produknya. Perusahaan yang berbasis di Cupertino ini rutin mewajibkan karyawan menandatangani perjanjian kerahasiaan ketat dan menerapkan sistem keamanan berlapis untuk mencegah kebocoran.
Hingga berita ini diturunkan, OpenAI belum memberikan tanggapan resmi terkait gugatan Apple. Kasus ini akan menjadi ujian besar bagi ambisi OpenAI mendiversifikasi bisnisnya dari model bahasa besar ke perangkat keras fisik.