JAWA BARAT — iPhone Ultra akhirnya akan hadir di ajang Apple event 9 September 2025, dan rumor yang beredar selama lima tahun terakhir perlahan menemui titik terang. Bloomberg yang diwakili Mark Gurman memberi bocoran terbaru soal harga, spesifikasi, dan target pasar perangkat lipat pertama Apple ini. IDC memprediksi perangkat ini akan menembus 10 juta unit terjual di tahun pertama, sementara Counterpoint Research memperkirakan Apple bisa mengambil 25% pangsa pasar foldable global pada 2026—menggerus Samsung dari 40% menjadi 32%.
Harga iPhone Ultra: Siap-Siap Keluar Rp 40 Jutaan untuk Varian Tertinggi
Gurman mematok harga awal USD 2.000 atau sekitar Rp 32 juta dengan kurs Rp 16.000. Angka itu baru untuk varian dasar—kombinasi storage dan konfigurasi lain bisa membawa banderol lebih tinggi.
"Jika melihat harga iPhone Pro sekarang, model 2TB saja sudah menyentuh USD 2.000. Jadi iPhone Ultra jelas akan jauh di atas itu tergantung kapasitas yang dipilih," ujar Gurman. Apple juga kabarnya menyiapkan program Apple Upgrade yang memungkinkan pembeli "menyewa" iPhone dengan cicilan bulanan lebih rendah, sebagai cara meredam kenaikan harga komponen.
Target Pasar: Bukan untuk Semua Orang, Murni Gengsi
Gurman tidak ragu menyebut iPhone Ultra sebagai ponsel untuk gaya hidup, bukan kebutuhan. "Saya tidak bisa berkata dengan wajah lurus bahwa Anda butuh menghabiskan USD 2.000 untuk telepon hanya karena engselnya canggih dan bisa dibuka seukuran iPad," katanya.
Perangkat ini dibidik sebagai simbol status—fleksibel, eksklusif, dan jelas bukan untuk pasar mainstream. Buat yang butuh fungsi lipat sesungguhnya, perangkat ini tetap masuk akal karena punya layar 5,5 inci di bagian luar dan 7,8 inci di bagian dalam, desain paspor mirip Galaxy Z Fold 8.
Fitur Andalan: Menonton Video Jadi Prioritas Utama
Apple memilih format layar lebar—bukan persegi—dengan tujuan utama memberikan pengalaman menonton video landscape yang imersif. Menurut Gurman, Apple akan memposisikan perangkat ini unggul untuk web browsing, viewfinder kamera, dan terutama menonton video.
Multitasking-nya mengadopsi gaya iPad, bukan macOS. "Anda tidak akan dapat multitasking ala Mac yang ada di iPadOS. Yang didapat adalah tata letak aplikasi ala iPad, side-by-side, dan drag-and-drop antar aplikasi," jelas Gurman. Untuk gaming, layar 7,8 inci memberikan posisi jempol ideal—mirip joystick untuk game balap, tembak-menembak, atau GTA.
Kelemahan yang Wajib Diketahui: Tanpa Telephoto dan Face ID
Di balik kemewahannya, iPhone Ultra membawa kompromi yang cukup berani. Tidak ada lensa telephoto—hanya kamera utama wide dan ultra wide. Anda harus puas dengan zoom digital. Galaxy Z Fold 8 juga melakukan hal yang sama, dan faktanya tetap jadi foldable terlaris di jajaran Samsung.
Lebih mengejutkan lagi, iPhone Ultra kabarnya tidak membawa Face ID—menjadikannya iPhone premium pertama sejak iPhone X yang kehilangan fitur ini. Namun Gurman menilai ini bukan masalah besar karena pengguna Mac dan iPad sudah familier dengan Touch ID di tombol samping.
Kabar baiknya, MagSafe tetap tersedia, sehingga charger magnetik dan aksesori bisa menempel tanpa cangkang. Sesuatu yang tidak dimiliki Galaxy Z Fold 8.
Lipatan Layar dan Durabilitas: Belum Sempurna, Tapi Lebih Baik dari Samsung
Apple dikabarkan menghabiskan waktu lama untuk menghilangkan bekas lipatan di tengah layar—masalah klasik semua foldable. "Saya pikir mereka belum berhasil total. Tapi sudah sangat dekat," kata Gurman. "Samsung sudah membuat kemajuan serius, dan Apple akan berada di jalur yang sama, mungkin sedikit lebih baik karena engselnya lebih kuat."
Keunggulan durabilitas datang dari engsel Liquid Metal dengan rongga internal teardrop yang mengurangi tekanan mekanis. "Target Apple adalah membuat foldable sekuat—atau setidaknya mendekati—iPhone biasa. Ini yang lama mereka kerjakan," tambah Gurman.
Keunggulan Hari Pertama: Aplikasi iPhone Ultra Langsung Matang
Inilah senjata rahasia Apple: ekosistem aplikasi. Foldable Android sudah eksis hampir satu dekade, tapi banyak aplikasi populer—Instagram, Slack, X—masih tampak seperti HP biasa yang diregangkan di layar besar. Apple akan menghindari masalah ini sejak awal.
"App story adalah salah satu hal yang menahan perkembangan foldable," ujar Gurman. "Apple akan memilikinya sejak hari pertama." iOS 27 membawa developer tools baru yang memudahkan aplikasi menyesuaikan ukuran layar secara otomatis—mirip perilaku iPad mini.
Kapan Rilis di Indonesia?
Menurut Gurman, jadwal rilis iPhone Ultra berdekatan dengan iPhone 18 Pro series. "Saya akan sangat terkejut jika perangkat lipat ini tidak keluar bersamaan atau sangat dekat dengan rilis Pro. Isu penundaan sampai Oktober-November karena masalah supply chain—saya tidak percaya itu," tegasnya.
Untuk pasar Indonesia, biasanya butuh beberapa minggu hingga bulan setelah rilis global. Belum ada konfirmasi harga resmi untuk Tanah Air, tapi estimasi awal di kisaran Rp 35–45 juta untuk varian menengah.
Anti-Hype: Catatan Jujur Sebelum Membeli
iPhone Ultra bukan untuk semua orang. Tanpa telephoto, tanpa Face ID, harga selangit—ini perangkat untuk early adopter dan kolektor. Fitur video dan gaming memang menggoda, tapi tunggu review hands-on sebelum memutuskan. Jangan percaya hype sepihak: Apple memang unggul di sisi software, tapi fisik foldable selalu punya risiko durabilitas jangka panjang.
Keputusan ada di tangan Anda—apakah gengsi dan pengalaman layar besar sebanding dengan kompromi dan harga puluhan juta rupiah.