JAWA BARAT — PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas mulai mengebor dua blok seluas 200 hektare di Mamuju, Sulawesi Barat, untuk memastikan potensi cadangan logam tanah jarang (LTJ). Eksplorasi BUMN bentukan Danantara ini menargetkan perhitungan sumber daya rampung tahun depan, dengan hasil bor baru mencapai 10 persen dari 72 titik.
Perminas memegang IUP Eksplorasi dari Kementerian ESDM sejak Juli 2026, disusul penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) eksplorasi pada Agustus 2026. Dua blok yang digarap masing-masing berukuran 100 hektare. Perusahaan pelat merah ini kini mengebut pengeboran rapat in-fill untuk mendetailkan temuan Badan Geologi sebelumnya.
Mengapa Mamuju Jadi Incaran
Logam tanah jarang kerap disebut harta karun karena menjadi bahan baku produk elektronik, baterai kendaraan listrik, hingga peralatan pertahanan militer. Permintaan global atas komoditas ini terus menanjak seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik dan teknologi.
Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas La Ode Tarfin Jaya menyebut pengeboran dilakukan di 72 titik dengan kerapatan 50 x 50 meter. Dari total 200 titik yang direncanakan, progresnya baru sekitar 10 persen.
"Sekarang kami lagi melakukan drilling rapat in-fill di 200 hektar itu saat ini baru di 10%, di 72 titik ya yang kami lakukan dengan kerapatan 50 50, 50 x 50," ujar La Ode Tarfin di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, pengeboran ini penting untuk mendetailkan hasil eksplorasi yang sudah dikerjakan Badan Geologi. Setelah 200 titik tuntas, Perminas akan menghitung estimasi cadangan melalui competent person yang memberi pernyataan resmi soal jumlah sumber daya yang dimiliki.
Karakteristik LTJ Mamuju
La Ode menjelaskan LTJ di Mamuju bertipe ion-adsorption clay, yang tergolong primer. Karakter ini disebut mirip dengan endapan di Bayan Obo China, Myanmar, dan Caldeira Brasil.
"Nah LTJ kalau di Mamuju itu tipikalnya ion-adsorption clay. Jadi dia tipikal yang sama dengan misalnya Bayan Obo di China atau yang di Myanmar, atau di Caldeira Brazil, itu adalah tipe logam tanah jarang yang primer," terangnya.
Data Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat kadar total LTJ tertinggi di Mamuju mencapai 4.571 ppm. Angka itu jauh di atas Parmonangan, Sumatera Utara, yang sebesar 1.549 ppm.
Jejak Eksplorasi Badan Geologi
Badan Geologi sebelumnya mengeksplorasi potensi LTJ di Mamuju dan Parmonangan melalui dua tahap. Tahap awal meliputi pemetaan, georadar, geomagnet, sumur atau parit uji, serta pengeboran. Eksplorasi detail kemudian dilakukan lewat pengeboran lebih rapat dan uji ekstraksi yang mencakup karakterisasi, konsentrasi, dan ekstraksi.
Plt. Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid menyampaikan usulan wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) LTJ di Mamuju dan Parmonangan baru pertama kali muncul pada 2022. Rencana usulan WIUP LTJ berlanjut hingga 2024, dengan eksplorasi detail diarahkan ke sejumlah wilayah seperti Ketapang, Sibolga, Pegunungan Tiga Puluh, dan Papua.
Badan Geologi juga mencatat potensi lithium 86-92 ppm, stronsium 394-451 ppm, dan LTJ maksimal 111 ppm di area Lumpur Sidoarjo pada 2022. Temuan itu merupakan lanjutan dari penemuan pada 2020 di lokasi berbeda.
Bagi Perminas, pengeboran di Mamuju menjadi ujian pertama sebagai BUMN mineral bentukan Danantara. Jika cadangan terbukti ekonomis, Mamuju berpeluang masuk peta pemasok LTJ dunia yang selama ini didominasi China. Namun semuanya bergantung pada hasil 200 titik bor dan perhitungan competent person tahun depan.