Bukan Sekadar Ngopi, 5 Kedai Unik di Semarang Ini Tawarkan Suasana Bangunan 120 Tahun dan Koleksi Antik

Penulis: Candra Setiabudi  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 12:50:32 WIB
Kedai kopi di Semarang menempati bangunan berusia 120 tahun dengan arsitektur kolonial yang terawat.

SEMARANG — Pengalaman ngopi di Kota Semarang kini bertransformasi. Bukan cuma soal racikan biji kopi, tetapi juga atmosfer tempat yang menjadi daya tarik utama. Beberapa kedai kopi bahkan menempati bangunan tua peninggalan kolonial yang berusia lebih dari satu abad, menawarkan sensasi nongkrong yang tak bisa ditemukan di kafe modern biasa.

Bangunan 120 Tahun Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu yang menonjol adalah kedai kopi yang menempati bangunan berusia 120 tahun. Arsitektur klasik dengan dinding bata ekspos dan lantai kayu khas era kolonial masih dipertahankan. Pengunjung bisa menikmati kopi sambil membayangkan suasana Semarang tempo dulu.

Konsep ini menjadi magnet tersendiri di tengah maraknya kafe modern bergaya industrial atau minimalis. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga untuk berfoto dan merasakan atmosfer sejarah yang kental.

Koleksi Antik dan Suasana Nostalgia

Selain bangunan tua, beberapa kedai kopi lain mengusung tema nostalgia dengan memajang koleksi barang antik. Mulai dari mesin ketik lawas, telepon putar, hingga poster-poster klasik menghiasi setiap sudut ruangan. Konsep ini berhasil menciptakan suasana hangat dan instagramable.

Pengelola sengaja memilih tema tersebut untuk memberikan pengalaman berbeda. "Kami ingin pengunjung merasa seperti kembali ke masa lalu, tapi dengan secangkir kopi kekinian," ujar salah satu pengelola kedai kopi di kawasan Kota Lama Semarang.

Lima Rekomendasi Kedai Kopi Unik di Semarang

Berikut lima kedai kopi di Semarang yang menawarkan konsep unik dan vibes juara:

  • Kedai Kopi di Bangunan Cagar Budaya — Menempati rumah tua berusia 120 tahun di kawasan Kota Lama, menyajikan kopi manual brew dengan latar arsitektur kolonial.
  • Kedai Kopi dengan Koleksi Antik — Dipenuhi barang-barang vintage seperti radio lawas dan mesin jahit tua, cocok untuk penggemar estetika retro.
  • Kedai Kopi di Atas Gedung (Rooftop) — Menawarkan pemandangan Kota Semarang dari ketinggian, dengan konsep terbuka yang asyik untuk sore hari.
  • Kedai Kopi dengan Taman Belakang — Mengusung konsep semi-outdoor dengan taman rindang, cocok untuk bersantai sambil bekerja.
  • Kedai Kopi dengan Live Music Akustik — Menyajikan pertunjukan musik akustik setiap akhir pekan, menambah suasana santai dan hangat.

Vibes Juara untuk Akhir Pekan

Kelima kedai kopi ini menjadi pilihan tepat bagi warga Semarang atau wisatawan yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan. Suasana yang ditawarkan sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota. Mulai dari tempat yang sunyi dan cocok untuk membaca buku, hingga tempat yang ramai dengan alunan musik.

Fenomena kedai kopi tematik ini menunjukkan bahwa bisnis kopi di Semarang terus berkembang. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi juga dari segi pengalaman yang ditawarkan kepada pelanggan. Hal ini juga mendorong pelestarian bangunan tua yang mulai jarang terawat.

Apakah Kedai Kopi Ini Cocok untuk Work From Cafe?

Beberapa kedai kopi dengan konsep bangunan tua dan taman belakang menyediakan colokan listrik dan Wi-Fi yang memadai. Namun, untuk kedai yang mengusung tema koleksi antik, ruangannya cenderung lebih sempit dan kurang cocok untuk bekerja dalam waktu lama. Sebaiknya pilih kedai dengan konsep semi-outdoor atau rooftop jika ingin bekerja sambil ngopi.

Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?

Waktu terbaik untuk mengunjungi kedai kopi dengan konsep bangunan tua adalah pada pagi hingga siang hari, karena cahaya alami masuk dan membuat suasana lebih hidup. Sementara itu, kedai kopi rooftop dan yang memiliki live music lebih ramai dikunjungi pada sore hingga malam hari. Disarankan datang lebih awal di akhir pekan untuk mendapatkan tempat duduk terbaik.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: radarbogor.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top