JAWA BARAT — Pekan lalu, publik dihebohkan dengan kabar bahwa Elon Musk resmi menjadi triliuner pertama di dunia setelah SpaceX melantai di bursa. Dalam pidato kemenangannya, ia menyatakan ambisi membawa manusia ke Bulan, Mars, dan “maybe beyond the solar system.” Namun euforia itu tak bertahan lama.
Bloomberg Billionaires Index, yang memantau kekayaan orang terkaya global, mencatat posisi Musk saat ini hanya berada di level "several-hundred-billionaire". Angka pastinya memang tidak disebutkan, tapi jelas masih jauh dari predikat triliuner yang sempat diraihnya.
Penyebab utamanya adalah volatilitas harga saham SpaceX pasca-IPO. Nilai perusahaan yang sempat melambung tinggi kini kembali ke level normal, mengikis total kekayaan pribadi Musk secara signifikan.
Penurunan nilai aset ini langsung memicu pertanyaan di kalangan pengamat: sanggupkah Musk membiayai ambisi luar angkasanya? Apalagi ia dikenal sebagai penganut pronatalisme—keyakinan untuk memiliki banyak anak—dan kabarnya sudah memiliki "legion of offspring."
“The math is getting complicated,” tulis sumber kami, merujuk pada rumitnya perhitungan biaya hidup untuk keluarga besar Musk di tengah kekayaan yang menyusut.
Alih-alih bersimpati, sebagian warganet justru melontarkan sindiran. Beberapa menawarkan bantuan receh seperti resep nasi dan kacang-kacangan murah meriah, atau tips berburu barang bekas di thrift store. Sindiran ini menjadi cerminan ironi: orang terkaya di dunia harus menghadapi kenyataan pahit fluktuasi pasar.
Belum ada pernyataan resmi dari tim Musk mengenai langkah selanjutnya. Yang jelas, status triliuner yang sempat direbutnya kini hanya tinggal kenangan—setidaknya sampai harga saham SpaceX merangkak naik lagi.