KUNINGAN — Sebanyak 75 stan pameran memadati area Pandapa Paramarta, Kompleks Stadion Mashud Wisnusaputra, dalam gelaran Ciremai Coffee Culture Festival yang berlangsung 4–6 September 2026. Dari jumlah tersebut, 55 stan berada di area dalam dan 20 stan lainnya di area luar, menyuguhkan potensi kopi unggulan Kabupaten Kuningan yang ditanam di kaki Gunung Ciremai.
Festival ini menjadi rangkaian perayaan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan sekaligus momentum memperkuat ekosistem kopi lokal. Acara tidak hanya menyasar pengunjung umum, tetapi juga dirancang untuk memberikan manfaat konkret bagi pelaku UMKM sektor kopi melalui berbagai agenda bisnis dan pelatihan.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung disuguhkan beragam kegiatan, mulai dari sarasehan kopi, lomba public cupping, hingga workshop penyangraian kopi. Panitia juga menyiapkan lomba tarung seduh, lomba barista, dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli.
Klinik kemasan dan legalitas UMKM turut dihadirkan untuk membantu pelaku usaha kecil memenuhi standar produk. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan, Toni Kusumanto, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar hiburan.
"Kami berharap kegiatan ini dapat membuka peluang kerja sama dan kesepakatan bisnis yang konkret, sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku usaha kecil dan menengah di sektor kopi," ujar Toni dalam keterangan resmi yang dikutip laman Pemkab Kuningan.
Potensi alam Kabupaten Kuningan yang berada di kawasan Gunung Ciremai mendukung budidaya tiga jenis kopi sekaligus, yakni Arabika, Robusta, dan Liberika. Ketiga varietas ini menjadi identitas cita rasa kopi yang tumbuh di lereng gunung tersebut.
Melalui festival ini, pemerintah daerah ingin membuka ruang kolaborasi lintas sektor. "Kami ingin memperkenalkan potensi kopi Kuningan secara lebih luas, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara petani, pelaku UMKM, barista, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah," kata Toni.
Penguatan juga diarahkan pada perlindungan Indikasi Geografis Kopi Ciremai. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi reputasi dan karakteristik khas kopi dari wilayah tersebut di pasar yang lebih luas.
Dukungan terhadap pengembangan kopi Kuningan datang dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon. Kepala Perwakilan BI Cirebon, Wihujeng Ayu Renganis, menyebut potensi kopi di wilayah Kuningan dan sekitarnya luar biasa untuk didorong menjadi pengungkit ekonomi daerah.
Secara historis, kopi dari wilayah Karesidenan Cirebon, termasuk Kuningan, telah memiliki perjalanan panjang hingga menembus pasar mancanegara. BI menyebut telah melakukan pendampingan terhadap Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang wilayahnya meliputi Kabupaten Kuningan dan Majalengka.
"Kami bawa kopi-kopi Kuningan ini ke dunia, ke panggung dunia, ke World of Coffee di Bangkok mewakili Kuningan untuk menunjukkan bahwa kualitasnya tidak kalah dengan kopi yang lainnya," ungkap Wihujeng.
Pendampingan dilakukan dari sisi hulu ke hilir, mulai dari peningkatan produktivitas dan mutu kopi hingga perluasan promosi. BI juga mendorong kafe dan UMKM lokal untuk memperkenalkan Kopi Buana Ciremai sebagai produk berkualitas internasional.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini tidak boleh berhenti pada kemeriahan acara semata. Ia menginstruksikan agar Ciremai Coffee Culture Festival menjadi momentum strategis membangun daerah melalui komoditas kopi.
Pemilihan kopi sebagai tema utama peringatan hari jadi merupakan keputusan yang disengaja. Hal ini sejalan dengan upaya mengangkat potensi daerah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi bagian dari identitas Kabupaten Kuningan.