IHSG Berisiko Turun ke 6.375, Reza BRI Danareksa Waspadai Eskalasi AS-Iran

Penulis: Bayu Nugroho  •  Jumat, 11 September 2026 | 08:06:31 WIB
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memproyeksikan IHSG berisiko turun ke 6.475–6.375 selama belum merebut level 6.600.

JAWA BARAT — Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG belum kembali ke jalur penguatan selama belum merebut level 6.600. Resistance berikutnya berada di 6.600–6.700.

"Selama belum reclaim ke 6.600, IHSG berisiko turun ke 6.475-6.375," kata Reza dalam risetnya, Jumat (11/9).

Proyeksi itu muncul setelah IHSG ditutup melemah 1,33 persen ke level 6.589,34 pada perdagangan 10 September. Pelemahan terjadi di tengah memanasnya konflik AS-Iran yang kembali mengangkat harga minyak ke sekitar USD100 per barel.

Minyak USD100 dan Yield US Treasury Jadi Beban Ganda

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi baru dan mempersempit ruang pelonggaran moneter, termasuk bagi Bank Indonesia. Tekanan bertambah dari lonjakan yield US Treasury, dengan yield tenor 10 tahun menyentuh sekitar 4,84%.

Kombinasi keduanya menekan aset berisiko dan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung menahan diri saat imbal hasil obligasi AS naik dan biaya energi melambung.

Konsumsi Domestik Mulai Pulih, Tapi Kalah Dominan

Dari sisi domestik, Reza mencatat retail sales Juli tumbuh 1,1% year-on-year setelah tiga bulan sebelumnya terkontraksi. Angka itu menandakan konsumsi rumah tangga mulai membaik.

"Sementara dari sisi domestik, retail sales Juli tumbuh 1,1% YoY setelah tiga bulan sebelumnya mengalami kontraksi, menunjukkan konsumsi mulai membaik. Namun, sentimen global masih lebih dominan menekan pergerakan IHSG hari ini," ujarnya.

Artinya, perbaikan daya beli belum cukup menopang indeks selama faktor eksternal masih bergejolak. Pelaku pasar perlu mencermati arah harga minyak dan yield obligasi AS dalam beberapa sesi ke depan.

MNC Sekuritas: Uji 6.505–6.584, Potensi Naik ke 6.837

Head of Research MNC Sekuritas melihat IHSG akan menguji area 6.505 hingga 6.584 kendati terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pihaknya memperkirakan area penguatan IHSG berada di 6.737–6.837.

Rentang proyeksi dua sekuritas itu memberi gambaran bahwa volatilitas masih tinggi. BRI Danareksa menekankan risiko penurunan lebih dalam, sementara MNC Sekuritas membuka peluang rebound terbatas.

Yang Perlu Dicermati Investor

Beberapa faktor yang layak dipantau pekan ini:

  • Pergerakan harga minyak mentah, apakah bertahan di sekitar USD100 per barel atau naik lebih jauh
  • Yield US Treasury tenor 10 tahun, yang saat ini di kisaran 4,84%
  • Respons Bank Indonesia terhadap tekanan kurs dan inflasi impor
  • Keberlanjutan pemulihan retail sales sebagai penopang konsumsi domestik
  • Aliran dana asing di pasar saham dan obligasi

Bagi investor dengan horizon jangka pendek, level 6.600 menjadi kunci. Selama IHSG gagal bertahan di atasnya, tekanan jual berpotensi berlanjut ke area 6.475–6.375 seperti diproyeksikan BRI Danareksa. Sebaliknya, jika indeks berhasil menembus 6.700, ruang penguatan ke 6.737–6.837 terbuka.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: emitennews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top