JAWA BARAT — Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG belum kembali ke jalur penguatan selama belum merebut level 6.600. Resistance berikutnya berada di 6.600–6.700.
"Selama belum reclaim ke 6.600, IHSG berisiko turun ke 6.475-6.375," kata Reza dalam risetnya, Jumat (11/9).
Proyeksi itu muncul setelah IHSG ditutup melemah 1,33 persen ke level 6.589,34 pada perdagangan 10 September. Pelemahan terjadi di tengah memanasnya konflik AS-Iran yang kembali mengangkat harga minyak ke sekitar USD100 per barel.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi baru dan mempersempit ruang pelonggaran moneter, termasuk bagi Bank Indonesia. Tekanan bertambah dari lonjakan yield US Treasury, dengan yield tenor 10 tahun menyentuh sekitar 4,84%.
Kombinasi keduanya menekan aset berisiko dan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung menahan diri saat imbal hasil obligasi AS naik dan biaya energi melambung.
Dari sisi domestik, Reza mencatat retail sales Juli tumbuh 1,1% year-on-year setelah tiga bulan sebelumnya terkontraksi. Angka itu menandakan konsumsi rumah tangga mulai membaik.
"Sementara dari sisi domestik, retail sales Juli tumbuh 1,1% YoY setelah tiga bulan sebelumnya mengalami kontraksi, menunjukkan konsumsi mulai membaik. Namun, sentimen global masih lebih dominan menekan pergerakan IHSG hari ini," ujarnya.
Artinya, perbaikan daya beli belum cukup menopang indeks selama faktor eksternal masih bergejolak. Pelaku pasar perlu mencermati arah harga minyak dan yield obligasi AS dalam beberapa sesi ke depan.
Head of Research MNC Sekuritas melihat IHSG akan menguji area 6.505 hingga 6.584 kendati terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pihaknya memperkirakan area penguatan IHSG berada di 6.737–6.837.
Rentang proyeksi dua sekuritas itu memberi gambaran bahwa volatilitas masih tinggi. BRI Danareksa menekankan risiko penurunan lebih dalam, sementara MNC Sekuritas membuka peluang rebound terbatas.
Beberapa faktor yang layak dipantau pekan ini:
Bagi investor dengan horizon jangka pendek, level 6.600 menjadi kunci. Selama IHSG gagal bertahan di atasnya, tekanan jual berpotensi berlanjut ke area 6.475–6.375 seperti diproyeksikan BRI Danareksa. Sebaliknya, jika indeks berhasil menembus 6.700, ruang penguatan ke 6.737–6.837 terbuka.
Investasi mengandung risiko.