OJK: Indeks Optimisme Bankir 56, Kredit Diproyeksi Tumbuh Kuartal III

Penulis: Agus Hermawan  •  Minggu, 13 September 2026 | 08:07:31 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan triwulan III-2026.

JAWA BARAT — Otoritas Jasa Keuangan merilis hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) triwulan III-2026 yang melibatkan 99 bank responden pada Juli 2026. Jumlah itu mewakili 97,91% dari total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026.

Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) berada di level 56, sementara Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat 57. Keduanya bertahan di zona optimis.

Ekspektasi Kinerja di Level 83

Keyakinan bankir terhadap prospek usaha tercermin dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 83. Responden memperkirakan kredit tetap tumbuh seiring meningkatnya permintaan dan ekspansi lewat pipeline yang tersedia.

Industri pengolahan menjadi sektor paling dominan dalam penyaluran kredit perbankan. Sektor ini tumbuh 16,85% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026.

Dari sisi penghimpunan dana, bankir memperkirakan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh pada kuartal III-2026. Pertumbuhan DPK yang diproyeksi lebih tinggi dibanding penyaluran kredit turut mendorong peningkatan net cashflow perbankan.

Kualitas Kredit dan Likuiditas Dinilai Terjaga

Mayoritas responden meyakini kualitas kredit tetap aman. Posisi Devisa Netto (PDN) berada di level rendah dengan aset dan tagihan valuta asing lebih besar dibanding kewajiban valuta asing, atau long position.

Risiko likuiditas juga dinilai tetap terjaga. Responden memperkirakan alat likuid perbankan dan DPK akan terus tumbuh pada kuartal III-2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan hasil SBPO mencerminkan optimisme terhadap prospek kinerja sekaligus keyakinan mengelola risiko. Ekspektasi industri pada kuartal III-2026 berkaitan dengan perkiraan kenaikan inflasi dan suku bunga acuan global.

Semua Bank Waspadai Risiko Global

Seluruh bank responden mewaspadai kondisi global yang berpotensi berlangsung lama dan memburuk. Kondisi ini dinilai dapat berdampak signifikan terhadap prospek dan kinerja ekonomi nasional.

Meski begitu, sektor perbankan masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga. Kredit tumbuh positif, permodalan kuat, dan likuiditas memadai di tengah ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.

Keberlanjutan kinerja perbankan memerlukan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif. Tanpa itu, fungsi intermediasi perbankan tidak bisa berjalan optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, momentum pertumbuhan ekonomi perlu dijaga melalui upaya yang mendukung stabilitas, produktivitas, dan peningkatan daya saing. Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, perbankan diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Reporter: Agus Hermawan
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top