JAWA BARAT — Korban terbaru itu adalah Sersan Senior Milovan Jovanovic. Ia terluka parah saat mortir menghantam posisinya pada Rabu malam. Tim medis sempat memberikan perawatan darurat di rumah sakit pangkalan, lalu menerbangkannya dengan helikopter ke Pusat Medis Universitas di Beirut. Namun nyawanya tak tertolong.
Dua penjaga perdamaian lain juga luka-luka dalam serangan yang sama. Misi UNIFIL langsung meluncurkan penyelidikan internal dan mendesak otoritas nasional terkait untuk turut mengusut insiden ini. "Kekerasan harus diakhiri," tegas pernyataan pasukan tersebut.
Kematian Jovanovic menjadi yang ketujuh sejak konflik terbaru pecah pada 2 Maret 2026. Sebelumnya, pada akhir Maret, seorang penjaga perdamaian Indonesia tewas dan satu lainnya menyusul akibat luka setelah proyektil menghantam pangkalan mereka. Penyelidikan awal PBB menyalahkan peluru tank Israel.
Tak lama berselang, dua prajurit Indonesia lainnya gugur akibat alat peledak improvisasi. PBB menduga bom itu ditanam oleh Hizbullah. Pada April, giliran dua penjaga perdamaian Prancis yang tewas dalam penyergapan. Otoritas Prancis dan PBB mengaitkan serangan itu dengan Hizbullah, meski kelompok tersebut membantahnya.
UNIFIL sendiri mencatat lonjakan jumlah lintasan dan dampak serangan di Lebanon selatan. Sekitar 7.500 personel dari hampir 50 negara ditempatkan di sepanjang Garis Biru—perbatasan de facto sepanjang 120 kilometer antara Lebanon dan Israel. Mereka kerap terjebak di tengah baku tembak kedua kubu. Serbia mengerahkan sekitar 170 prajurit dalam misi ini.
Di tengah meningkatnya korban, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin lalu menyatakan pasukan penjaga perdamaian masih akan dibutuhkan di Lebanon setelah mandat UNIFIL berakhir akhir tahun ini. Pernyataan itu disampaikan di tengah tekanan Amerika Serikat dan Israel yang cenderung menentang perpanjangan misi.
Setiap serangan baru memperumit posisi PBB. Di satu sisi, evakuasi pasukan dianggap menyerahkan wilayah pada kekacauan. Di sisi lain, mempertahankan personel berarti terus menanggung risiko korban jiwa. Keputusan akhir akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan.