Penelitian LBSD Ungkap Bahasa Indramayu Berbeda 28,5 Persen dari Bahasa Jawa Yogyakarta

Penulis: Zulfikar Ahmad  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:38:01 WIB

INDRAMAYU — Penelitian Lembaga Basa lan Sastra Dermayu (LBSD) menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat Indramayu memiliki tingkat perbedaan sekitar 28,5 persen dibandingkan dengan bahasa Jawa Yogyakarta. Perbedaan ini menegaskan bahwa bahasa Dermayon merupakan dialek lokal yang terbentuk dari percampuran budaya Sunda dan Jawa di Pelabuhan Cimanuk pada masa lalu. Proses sejarah panjang yang melibatkan pengaruh Kerajaan Majapahit, Demak, hingga Mataram menjadi faktor utama terbentuknya keunikan linguistik tersebut.

Akar Sejarah: Pelabuhan Cimanuk Jadi Titik Temu Budaya

Budayawan Supali Kasim menjelaskan bahwa Pelabuhan Cimanuk pada masa lalu menjadi titik pertemuan penutur bahasa Sunda dan Jawa. Seiring berkembangnya pengaruh Kerajaan Mataram, penggunaan bahasa Jawa semakin mengakar dan melahirkan ragam bahasa khas Indramayu, seperti Bagongan dan Bebasan. Percampuran ini menghasilkan dialek yang berbeda dari bahasa Jawa di wilayah lain, termasuk Yogyakarta.

Proses akulturasi budaya berlangsung selama berabad-abad, menjadikan bahasa Dermayon sebagai identitas yang terus diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, masyarakat Indramayu tetap menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian, meskipun secara administratif berada di Provinsi Jawa Barat yang mayoritas berbahasa Sunda.

Metode Swadesh Ungkap Perbedaan 28,5 Persen

Penelitian LBSD menggunakan metode Morris Swadesh untuk mengukur tingkat perbedaan kosakata dasar antara bahasa Indramayu dan bahasa Jawa Yogyakarta. Hasilnya, ditemukan perbedaan sebesar 28,5 persen, yang menunjukkan bahwa bahasa Dermayon bukan sekadar varian kecil, melainkan dialek yang memiliki ciri khas tersendiri.

Angka tersebut memperkuat temuan sebelumnya bahwa bahasa yang digunakan warga Indramayu merupakan bahasa Jawa dengan dialek lokal, bukan bahasa Sunda. Peneliti LBSD mencatat bahwa perbedaan ini mencakup kosakata, pelafalan, dan beberapa struktur gramatikal yang unik.

Kosakata Kuno yang Masih Lestari

Salah satu ciri khas bahasa Dermayon adalah masih digunakannya kosakata kuno, seperti kata "kuwu" untuk menyebut kepala desa. Istilah ini merupakan warisan dari masa kerajaan dan tetap bertahan dalam administrasi pemerintahan desa di Indramayu. Selain itu, banyak kosakata lain yang tidak ditemukan dalam bahasa Jawa standar.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa bahasa Dermayon tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga penanda identitas budaya yang dijaga oleh masyarakat. Generasi muda pun diajarkan untuk melestarikan dialek ini agar tidak punah seiring arus modernisasi.

Penelitian LBSD diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya dokumentasi dan revitalisasi bahasa daerah di Indramayu. Ke depan, lembaga tersebut berencana menyusun kamus dan bahan ajar untuk mendukung pelestarian bahasa Dermayon.

Reporter: Zulfikar Ahmad
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top