Sentra Sepatu Cibaduyut Terancam Punah, Perajin Tuntut Subsidi Bahan Baku dan Pelatihan Digital Lewat Formula Smart IKM

Penulis: Candra Setiabudi  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 11:14:31 WIB
Perajin sepatu Cibaduyut mengajukan subsidi bahan baku untuk menjaga kelangsungan usaha.

BANDUNG — Ancaman kepunahan membayangi sentra sepatu Cibaduyut, ikon alas kaki tradisional Jawa Barat yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi ribuan keluarga. Para perajin kini dihadapkan pada kenyataan pahit: nama besar legendaris tidak lagi cukup untuk bertahan di tengah derasnya arus produk impor murah dan perubahan pasar yang cepat.

Ketergantungan Impor dan Jeritan Harga Jual

Masalah utama yang menjepit para perajin adalah pasokan bahan baku yang masih bergantung pada jalur impor. Akibatnya, harga jual produk lokal sulit bersaing dengan banjiran barang asing yang membanjiri pasar.

"Jangan sampai Sepatu Cibaduyut itu tinggal nama saja, kaya dinosaurus," ujar Ikin Sodikin, perwakilan IKM Cibaduyut, dalam Focus Group Discussion di Bandung, Rabu (24/6/2026). Ancaman serupa, menurutnya, juga nyata mengintai sentra alas kaki lain seperti di Garut dan Bogor Ciomas.

Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung, Roni Sukirman, menambahkan bahwa kerentanan ini muncul karena mata rantai bisnis perajin mikro belum solid. Kolaborasi lintas sektor dari skala mikro hingga besar masih rapuh, membuat perajin lokal selalu kalah cepat dalam merespons perubahan tren pasar global.

Formula 8 Kompetensi Digital untuk Selamatkan Perajin

Tim peneliti yang diketuai Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P, menginisiasi penyusunan dokumen Kamus Kompetensi melalui platform Smart IKM. Dokumen ini bukan untuk menguji perajin, melainkan menyerap ilmu dari para empu sepatu di lapangan.

Dalam sesi validasi, tim mengupas tujuh kompetensi kriya utama dan satu kompetensi digital. Komponen tersebut meliputi teknik desain, pemilihan material, hingga proses penjahitan upper yang diklaim sebagai tahapan paling sulit. Dr. Ratna Deli Sari, S.Sos., M.Si. memvalidasi teknik pembentukan sepatu (lasting) agar simetris tanpa kerutan, serta memetakan teknik sol tradisional seperti stitch-down/rosel dan backstitch/dorné.

Aspek pelestarian pengetahuan kriya lewat tradisi ngendek (magang) kepada pekerja junior juga dimasukkan demi menjaga regenerasi. Sebagai penutup, Dr. Peti Savitri, S.T., M.T. memvalidasi kompetensi kedelapan, yakni kesiapan operasi dan pemasaran digital berbasis aplikasi yang akan mengubah bengkel tradisional menjadi Smart IKM yang lincah di pasar daring.

Jeritan Perajin: Bukan Pelatihan Teori, Tapi Subsidi Bahan Baku

Di sisi lain, transformasi digital tidak akan berjalan mulus tanpa perbaikan di sektor hulu. Tokoh masyarakat sekaligus perajin lokal, Gun Gun Ruhiyadi, menyatakan bahwa fokus utama pengrajin saat ini adalah bertahan hidup. "Saya hidup dari sepatu," ungkapnya, mewakili ribuan kepala keluarga yang menggantungkan nasib pada produksi sepatu handmade.

Para peserta diskusi sepakat mengeluarkan rekomendasi mendesak untuk pemerintah. Mereka menuntut adanya program subsidi material atau bahan baku lokal untuk memangkas biaya produksi. Selain itu, para perajin menolak pelatihan yang hanya bersifat teoretis. Mereka membutuhkan pendampingan bisnis secara langsung di bengkel kerja sehari-hari agar kompetensi baru benar-benar menghasilkan omzet.

Urgensi Penyelamatan Ekonomi Lokal Jawa Barat

Sektor IKM alas kaki menyumbang kontribusi ekonomi yang signifikan bagi Jawa Barat. Integrasi indeks kompetensi seperti CSI yang dikombinasikan dengan intervensi harga material terbukti mampu meningkatkan daya tahan industri kreatif hingga 34% terhadap gempuran produk manufaktur asing. Tanpa langkah konkret, ikon alas kaki Cibaduyut benar-benar bisa tinggal nama.

Reporter: Candra Setiabudi
Sumber: jabarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top