BANDUNG — Pendidikan seksualitas untuk anak kerap menjadi topik tabu di Indonesia. Namun, seorang akademisi dari Universitas Islam Bandung (Unisba) justru menjadikannya bahan riset doktoral dan berhasil menciptakan model pembelajaran yang selaras dengan budaya lokal.
Dr. Indri Utami Sumaryanti, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Unisba, resmi menyandang gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di Fakultas Psikologi Unpad. Penelitiannya berjudul “School-Based Sexuality Education (Pesan Nusantara) to Enhance Knowledge, Affective Evaluation and Perceived Behavior Control Regarding Sexuality for 9-12 Years Old Primary Students”.
Pesan Nusantara: Bukan Sekadar Anatomi, Tapi Nilai dan Norma
Model yang diberi nama Pesan Nusantara (Pendidikan Seksualitas Anak Nusantara) ini menjadi terobosan karena tidak mengadopsi mentah-mentah kurikulum dari Barat. Indri merancangnya agar sesuai dengan norma sosial, nilai-nilai masyarakat, dan budaya Indonesia yang majemuk.
“Pendekatannya berbasis sekolah, tapi konteksnya lokal. Anak-anak usia 9 hingga 12 tahun diajarkan tentang pemahaman diri, pengendalian perilaku, dan afeksi yang selaras dengan nilai kesopanan serta agama,” jelas Indri dalam paparan disertasinya.
Perjalanan Akademik dan Karier yang Panjang
Indri bukan nama baru di dunia psikologi klinis dan perlindungan anak. Sejak 2009, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Unisba. Ia sempat menjabat Kepala Laboratorium Psikologi (2011–2018), Kepala Bagian Psikologi Klinis (2018–2022), dan kini dipercaya sebagai Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Sumber Daya, Umum dan Keuangan periode 2026–2030.
Di luar kampus, ia aktif sebagai psikolog klinis praktik dan asesor kompetensi di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sejak 2022. Aktivitas risetnya sejak 2016 berfokus pada psikoedukasi kesehatan dan psikologi klinis.
Mengapa Usia 9-12 Tahun Menjadi Sasaran?
Rentang usia ini dipilih karena anak mulai memasuki masa pubertas awal. Menurut Indri, pada fase tersebut anak rentan menerima informasi yang keliru dari teman sebaya atau internet. Pendidikan seksualitas yang terstruktur dan sesuai usia dinilai mampu membekali mereka dengan pengetahuan yang benar sekaligus menumbuhkan sikap bertanggung jawab.
Model Pesan Nusantara mengukur tiga aspek utama: pengetahuan (knowledge), evaluasi afektif (affective evaluation), dan kontrol perilaku yang dirasakan (perceived behavior control). Ketiganya menjadi pilar agar anak tidak hanya tahu, tetapi juga mampu menilai situasi dan mengendalikan dorongan sosial yang tidak sehat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rencana spesifik dari Unpad atau Unisba untuk menguji coba model ini di sekolah-sekolah dasar di Jawa Barat. Namun, publikasi ilmiah dan sidang terbuka ini menjadi langkah awal yang signifikan bagi diskursus pendidikan seksualitas anak di Indonesia.