JAWA BARAT — Founder and Executive Director Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, memperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia pada 2050 mencapai 300 juta ton. Angka tersebut hampir 1,4 kali lipat dibandingkan produksi minyak nabati global pada 2025 yang tercatat 215,6 juta ton.
"Menuju tahun 2050, populasi penduduk dunia akan mencapai lebih dari 10 miliar orang maka kebutuhan minyak sawit dunia juga akan semakin besar," kata Tungkot di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Data PASPI menunjukkan kelapa sawit hanya memiliki luas areal sekitar 29 juta hektare. Namun, komoditas ini mampu menyumbang 41,4 persen terhadap produksi minyak nabati utama dunia.
Angka itu berbanding terbalik dengan kompetitornya. Kedelai, misalnya, memiliki luas areal 143,8 juta hektare tetapi hanya berkontribusi 32,8 persen. Rapeseed menempati 43,8 juta hektare dengan sumbangan 16,5 persen, dan bunga matahari yang mencakup 29,5 juta hektare hanya menghasilkan 9,3 persen.
Tungkot menegaskan keunggulan sawit terletak pada produktivitasnya yang mencapai delapan hingga sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Ia menilai masih ada ruang peningkatan produksi sebesar 50 hingga 100 persen melalui perbaikan praktik perkebunan dan adopsi teknologi.
Menurut dia, peningkatan produksi minyak nabati selain sawit akan menghadapi keterbatasan akibat produktivitas dan ketersediaan lahan yang semakin sempit. Kondisi ini membuat sawit berpotensi semakin dominan memenuhi permintaan global.
Proyeksi pertumbuhan ini tidak lepas dari pergeseran fungsi minyak nabati. Tungkot menjelaskan minyak sawit tidak hanya digunakan untuk pangan, tetapi juga semakin banyak dimanfaatkan sebagai bahan biomaterial, substitusi produk petrokimia, dan sumber energi alternatif.
"Semakin bertumbuh penduduk dunia, konsumsi minyak sawit juga meningkat," ujarnya.
Pertumbuhan populasi dan kenaikan pendapatan masyarakat global disebut menjadi pendorong utama peningkatan konsumsi. Industrialisasi global yang masif turut memperbesar kebutuhan bahan baku berbasis nabati untuk berbagai sektor industri.