JAWA BARAT — Lonjakan saham BYAN menjadi motor utama penguatan indeks. Saham emiten batu bara milik Low Tuck Kwong itu ditutup melesat 19,97% seiring spekulasi pasar mengenai potensi akuisisi oleh Grup Jhonlin milik pengusaha Haji Isam.
Di sisi lain, indeks acuan Asia dan Amerika Serikat masih menunjukkan pelemahan. Dow Jones terkoreksi 0,22% ke 53.343, S&P 500 melemah 0,69% ke 7.691, dan Nasdaq anjlok 1,33% ke 26.289. ETF EIDO yang melacak pasar Indonesia juga turun 0,32% dan 0,59%.
Spekulasi Akuisisi BYAN dan Aksi Korporasi Jhonlin
Kabar potensi pengambilalihan BYAN mencuat setelah Haji Isam mengunjungi area tambang BYAN di Kutai Kartanegara pada 15 Agustus. Dalam kunjungan tersebut, turut hadir pengendali BYAN, Low Tuck Kwong, dan Norman Joesoef.
Laporan yang beredar menyebut potensi pengambilalihan mencapai 62% saham BYAN. Meski demikian, belum ada keterbukaan informasi resmi dari BYAN maupun Grup Jhonlin terkait nilai transaksi, struktur pengambilalihan, ataupun kepastian transaksi tersebut. Rencana akuisisi ini masih sebatas spekulasi pasar.
Investor juga mencermati rencana RUPSLB PT Jhonlin Agro Raya (JARR) yang dijadwalkan pada 21 September 2026. Hingga saat ini, agenda rapat tersebut belum disampaikan kepada publik.
DOOH Resmi Berganti Pengendali, SII Tunggu Tender Wajib
PT Sinergi Internasional Investama (SII) telah merampungkan pembelian 3,95 miliar saham PT Era Media Sejahtera (DOOH) atau setara 51% dari PT Prambanan Investasi Sukses pada 30 Juli 2026. Transaksi dilakukan dengan harga Rp50 per saham, sehingga total nilai mencapai Rp197,34 miliar.
SII berada di bawah kendali Tinawati yang tercatat sebagai pemilik manfaat akhir dengan kepemilikan 99,90%. Tinawati juga tercatat sebagai pemilik manfaat akhir PT Solusi Sinergi Digital.
Setelah perubahan pengendalian tersebut, SII memiliki kewajiban melakukan Penawaran Tender Wajib atas saham DOOH sesuai POJK No. 9/2018. Harga dan jadwal pelaksanaan penawaran akan disampaikan kemudian. SII menyatakan akan meneruskan sekaligus mengembangkan kegiatan usaha yang telah dijalankan DOOH.
FTSE Russell Tunda Reformasi Penuh Indeks Saham Indonesia
FTSE Russell memutuskan menunda perubahan penuh pada indeks saham Indonesia hingga setidaknya tinjauan Desember 2026. Keputusan ini berkaitan dengan proses reformasi pasar serta peningkatan transparansi informasi kepemilikan saham di Indonesia.
Dalam tinjauan September 2026, sejumlah perubahan tetap akan dilakukan secara terbatas. Penyesuaian mencakup klasifikasi industri, pembaruan jumlah saham dan free float dengan batasan tertentu, penghapusan saham yang tidak memenuhi persyaratan indeks, serta perubahan terkait capping dan Weight Adjustment Factor (WAF).
Namun, FTSE Russell belum menerapkan perubahan segmen kapitalisasi, peningkatan free float, perubahan WAF dari nol menjadi positif, maupun penambahan saham baru termasuk saham hasil IPO. Selain itu, saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) akan dihapus dari indeks mulai 21 September 2026.
Pergerakan Sektor dan Aksi Jual Asing
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sebanyak 10 sektor berakhir menguat. Sektor energi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,24%, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya yang terkoreksi 0,29%.
Selain BYAN, saham BRMS menguat 4,03% dan EMAS naik 3,31%. Di sisi lain, MPRO terkoreksi 6,54%, BBRI turun 1,28%, dan BBCA melemah 0,79%.
Aktivitas investor asing masih mencatatkan net sell. Di pasar reguler, asing membukukan net sell Rp689,26 miliar, sedangkan jika dihitung di seluruh pasar mencapai Rp355,17 miliar.
Investasi mengandung risiko.