TASIKMALAYA — Kapolsek Bantarkalong Iptu Agus Kasdili membenarkan peristiwa yang merenggut nyawa Subana. Pria 65 tahun itu berpamitan kepada istrinya, Hanah (62), sekitar pukul 09.00 WIB untuk mengambil kayu bakar di kebunnya yang berada di kawasan tebing perbukitan curam.
Korban diduga membakar daun dan ranting kering untuk membersihkan lahan. Api kemudian merambat cepat ke sekelilingnya karena angin kencang.
Menurut keterangan istri korban, Subana memiliki riwayat penyakit sesak napas menahun dan asam urat yang sering kambuh. Kondisi itu diduga membuatnya tak mampu menyelamatkan diri saat api membesar.
Lokasi kebun berada di tanah miring dengan tebing setinggi 20 meter yang licin. Korban diduga terpeleset, pingsan mendadak, lalu terjatuh ke dalam kobaran api.
"Korban berusaha memadamkan api tersebut namun mengalami sesak napas akibat menghirup asap tebal," ujar Iptu Agus Kasdili.
Subana baru ditemukan sekitar pukul 13.00 WIB oleh warga setempat, Abdu dan Iwan. Korban tergeletak terlentang tak bernyawa dengan tubuh hangus terbakar total di tengah lahan kebunnya.
Kasi Humas Polres Tasikmalaya Aipda Triana Anggasari menyebut pihaknya menerima laporan sekitar pukul 11.30 WIB. Personel Polsek Bantarkalong bersama TNI dan petugas medis Puskesmas Culamega langsung mendatangi lokasi untuk olah tempat kejadian perkara.
"Saat ditemukan korban sudah dalam keadaan hangus terbakar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan sama sekali," kata Triana.
Di lokasi yang masih berasap, petugas menemukan tumpukan rumput kering, daun pohon acord, dan bambu kering yang diduga menjadi sumber api membesar. Ditemukan pula batang pohon pisang dan kapol yang diduga digunakan korban untuk memadamkan api secara manual sebelum terjebak.
Proses evakuasi jenazah berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB dan berjalan sulit karena medan tebing curam.
Pihak keluarga menerima kejadian tersebut dengan ikhlas sebagai takdir dan menolak autopsi terhadap jenazah. Surat penolakan otopsi sudah dibuat sebagai dasar penyerahan jenazah.
"Keluarga menerima dengan ikhlas, tidak mau diotopsi. Sudah dibuatkan surat penolakan otopsi dan jenazah sudah kami serahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan secara layak," pungkas Triana.