JAWA BARAT — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan nasional Pertalite (RON 90) berada di kisaran 16-20 hari, sementara Pertamax dan BBM lainnya di atas 20 hari. Pemerintah memastikan stok dan distribusi BBM tetap aman meski harga minyak mentah dunia melonjak ke 105-106 dolar AS per barel.
Bahlil menyampaikan angka cadangan itu usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026) malam WIB. Rapat tersebut membahas ketahanan energi nasional di tengah tekanan harga minyak global. Menurut Bahlil, harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini berada di kisaran 105-106 dolar AS per barel.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata ICP sepanjang Januari hingga Oktober 2026 yang masih di bawah 100 dolar AS per barel. "Rata-rata dari Januari sampai dengan bulan Oktober sekarang ICP kita di angka 91 sampai dengan 92 dolar per barel," kata Bahlil.
Dari seluruh jenis BBM yang dijual di dalam negeri, Pertalite menjadi satu-satunya produk dengan cadangan di bawah 20 hari. Bahlil menyebut rentangnya 16-20 hari, bergantung pada kondisi distribusi harian.
"Untuk di sektor BBM saya dapat pastikan bahwa cadangan nasional kita rata-rata, minus Pertalite yang RON 90, RON 90 sekarang di angka 16-20 hari, kemudian selebihnya untuk bentuk BBM yang lain itu rata-rata di atas 20 hari," ucap Bahlil.
Cadangan BBM lain, termasuk Pertamax RON 92, Pertamax Turbo RON 98, serta Solar, tercatat melebihi 20 hari. Angka ini menjadi acuan pemerintah dalam memastikan pasokan tidak terganggu saat harga minyak dunia bergejolak.
Pertalite merupakan BBM bersubsidi dengan volume konsumsi terbesar di Indonesia. Karena dijual dengan harga yang jauh di bawah harga keekonomian, permintaan terhadap produk ini terus tinggi, terutama dari kendaraan pribadi dan angkutan umum.
Selisih harga itu membuat Pertalite menanggung beban subsidi terbesar dalam struktur APBN. Volume konsumsi yang besar sekaligus membuat perputaran stok di terminal BBM lebih cepat dibanding produk non-subsidi. Dalam kondisi harga minyak mentah naik, pemerintah harus menambah alokasi kompensasi agar harga jual di SPBU tidak ikut melonjak.
Bagi pengguna kendaraan pribadi dan pelaku usaha angkutan, kepastian stok 16 hari menjadi penanda bahwa pasokan masih terjaga dalam jangka pendek. Namun angka itu juga menunjukkan ruang fiskal pemerintah untuk menahan harga jual semakin sempit jika ICP bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Setiap kenaikan ICP berdampak langsung pada besaran subsidi dan kompensasi BBM yang ditanggung negara. Semakin lama harga minyak bertahan di level 105-106 dolar AS, semakin besar tekanan pada belanja negara. Pemerintah belum mengungkap opsi penyesuaian harga maupun tambahan kuota subsidi dalam rapat tersebut.
Bahlil menegaskan ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM nasional tetap menjadi prioritas. Pernyataan itu sekaligus merespons kekhawatiran publik soal kelangkaan di sejumlah daerah saat harga minyak dunia melonjak.
Cadangan 16-20 hari untuk Pertalite berada di batas aman operasional, tetapi tidak memberi banyak ruang jika terjadi gangguan pasokan impor atau lonjakan permintaan mendadak. Dengan ICP yang sudah menembus 105 dolar AS per barel, posisi Pertalite akan menjadi indikator pertama yang dipantau pemerintah dalam beberapa pekan ke depan.