Olivia Smith, dari Taekwondo hingga Rekor Transfer Rp20 Miliar di Arsenal

Penulis: Bayu Nugroho  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:39:01 WIB
Olivia Smith, pemain timnas Kanada, resmi bergabung dengan Arsenal dengan rekor transfer dunia senilai Rp20 miliar pada musim 2025.

JAWA BARAT — Kepindahan Smith ke Arsenal pada musim 2025 menjadi tonggak sejarah baru bagi sepakbola wanita dunia. Ia bergabung dengan status rekor dunia setelah hanya semusim membela Liverpool, yang merekrutnya dengan biaya £210.000 (sekitar Rp4,2 miliar). Sebelumnya, namanya melambung setelah menjalani debut bersama Timnas Kanada di usia 15 tahun.

Dari Whitby ke Panggung Dunia: Akar Multikultur Sang Bintang

Smith tumbuh di Whitby, kota kecil di Kanada. Sejak kecil, ia terbiasa bermain dengan anak laki-laki hingga usia 12 tahun sebelum akhirnya bergabung dengan tim putri. Lingkungan multikultural di sekitar Toronto turut membentuk gaya bermainnya yang khas.

"Ayah saya orang Jamaika, ibu saya keturunan Chili dan Peru. Ada begitu banyak budaya sepakbola di dalam diri saya. Kakek dari ayah dan ibu sama-sama pemain bola. Saya rasa flair itu ada di DNA saya," ujar Smith kepada BBC Sport.

Taekwondo, Senam, dan Mentalitas yang Terbentuk dari Perundungan

Di balik kesuksesannya, Smith pernah mengalami perundungan di sekolah. Ia kemudian memilih taekwondo sebagai mekanisme pertahanan diri, plus senam untuk melatih kelenturan. Dua olahraga itu ternyata menjadi fondasi penting bagi kariernya di level profesional.

"Taekwondo sangat membantu disiplin saya dan kemampuan melepaskan tembakan dengan cepat. Senam melatih agility dan fleksibilitas yang mencegah cedera," jelasnya. "Dalam senam, Anda harus bertahan dalam posisi split atau plank. Itu sangat berat secara mental dan membuat saya matang lebih cepat."

Buku Harian Sang Ayah dan Pengorbanan di Usia Muda

Karier Smith tak lepas dari peran besar sang ayah, Sean. Sejak kecil, Sean merekam semua pertandingan putrinya dan mencatat setiap gol yang dicetak dalam sebuah buku harian. Catatan itu masih tersimpan rapi hingga hari ini.

Pengorbanan terbesar justru datang saat Smith harus meninggalkan rumah di usia 15 tahun untuk mengejar karier di Michigan. Saat menaiki pesawat, ia bahkan belum tahu akan tinggal di mana. "Saya sering berpindah-pindah dan harus mengorbankan hubungan pertemanan. Itu sangat berat, tapi membantu saya terbiasa dengan apa yang akan datang," tuturnya.

Arsenal: Rumah Pertama yang Terasa Seperti Keluarga

Untuk pertama kalinya dalam kariernya, Smith akan menjalani musim kedua di klub yang sama. Setelah bertahun-tahun berpindah-pindah, ia akhirnya merasa menemukan tempat yang tepat di Arsenal.

"Saat melangkah ke gedung untuk pramusim kedua, rasanya tidak nyata. Ini terasa seperti rumah. Arsenal adalah tempat yang memang diperuntukkan bagi saya," katanya. "Saya selalu ingin bertahan lebih dari setahun di satu klub. Semua perpindahan itu akhirnya membawa saya ke sini."

Ambisi Smith tak berhenti di rekor transfer. Sejak usia enam atau tujuh tahun, ia sudah menuliskan target-target besar dalam jurnal pribadinya. Kini, dengan penghargaan PFA Women's Young Player of the Year dua tahun beruntun, jalan menuju mimpi terbesarnya — termasuk Ballon d'Or — semakin terbuka lebar.

Reporter: Bayu Nugroho
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top