Temuan dari ChromeUnboxed mengungkap delapan kode perangkat keras yang semuanya terhubung ke layar boot khas Googlebook — fitur eksklusif yang tidak dimiliki Chromebook biasa. Artinya, Google tidak sekadar mengganti nama, melainkan membangun lini produk baru dari papan sirkuit hingga tampilan antarmuka.
Intel Mendominasi, Snapdragon Mengekor, MediaTek Cuma Satu
Empat perangkat bertenaga Intel hadir dengan nama kode Felino, Lapis, Moonstone, dan Ruby. Tiga perangkat Snapdragon menyusul dengan kode Quenbi, Mica, dan Quartz. Satu perangkat MediaTek — Sapphire — disebut sebagai tablet Googlebook yang menggunakan chip Kompanio Ultra.
Belum diketahui varian spesifik Snapdragon yang akan dipakai. Namun, kehadiran tiga perangkat dari Qualcomm sekaligus menandakan Google serius menjadikan arsitektur ARM sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap.
Yang menarik, MediaTek — yang selama bertahun-tahun menjadi pemasok chip Chromebook paling agresif — justru hanya kebagian satu perangkat di gelombang pertama ini. Padahal, pabrikan Taiwan itu sudah menginvestasikan sumber daya besar untuk ekosistem ChromeOS.
Bukan Sekadar Chromebook dengan Nama Baru
Google sebelumnya menegaskan bahwa Googlebook adalah lini premium yang berbeda dari Chromebook biasa. Beberapa Chromebook kelas atas bahkan disebut bisa ditingkatkan (upgrade) ke sistem Googlebook — meski detail teknisnya masih belum diungkap.
Sistem operasi Android desktop untuk Googlebook juga sudah bocor. Fungsinya masih dasar: dukungan virtual desktop dan terminal. Ini menunjukkan Google masih berada di tahap awal pengembangan, jauh dari kematangan Windows atau macOS.
Kapan Meluncur dan Apa Artinya bagi Pengguna Indonesia?
Google hanya memberi kode waktu "akhir tahun ini" untuk peluncuran perdana Googlebook. Belum ada kepastian apakah delapan perangkat ini akan dirilis serentak atau bertahap.
Bagi pengguna Indonesia, kehadiran Googlebook bisa menjadi alternatif laptop premium dengan harga lebih terjangkau dibanding MacBook atau laptop Windows kelas atas. Namun, ketersediaan resmi di pasar lokal masih tanda tanya besar — Chromebook saja belum pernah masuk secara resmi ke Indonesia dengan dukungan penuh.
Yang jelas, langkah Google ini mengubah peta persaingan laptop. Dengan tiga arsitektur chip berbeda dalam satu ekosistem, pengguna punya lebih banyak pilihan tanpa harus keluar dari lingkungan Google.