BANDUNG — Ancaman kesehatan mengintai warga Jawa Barat seiring prediksi musim kemarau ekstrem yang akan berlangsung lebih lama tahun ini. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat secara resmi mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap empat kategori penyakit yang risikonya meningkat drastis.
Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi menjelaskan, musim kemarau ekstrem berdampak langsung pada menurunnya ketersediaan air bersih. Kondisi ini secara langsung memengaruhi kebersihan lingkungan dan memicu perkembangbiakan bakteri serta virus penyebab penyakit.
Empat Penyakit yang Mengancam
Dinkes Jabar merinci setidaknya empat masalah kesehatan yang perlu diwaspadai warga selama musim kemarau:
- Diare — Dipicu oleh menurunnya kualitas dan kuantitas air bersih untuk sanitasi dan konsumsi.
- ISPA — Risiko meningkat akibat memburuknya kualitas udara selama musim kemarau.
- Dehidrasi dan Heatstroke — Terutama mengancam warga yang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
- Malnutrisi — Dampak lanjutan dari kekeringan yang mengganggu produksi pangan.
Gejala Heatstroke yang Harus Diwaspadai
Vini meminta masyarakat tidak menyepelekan paparan suhu tinggi yang berkepanjangan. Jika mengalami gejala tertentu, warga diminta segera mencari pertolongan medis.
"Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat celcius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Langkah Pencegahan yang Disarankan
Dinkes Jabar mengimbau masyarakat melakukan sejumlah langkah antisipasi. Menjaga asupan cairan tubuh dan istirahat cukup menjadi prioritas utama, terutama bagi mereka yang bekerja di luar ruangan.
Warga juga disarankan menggunakan pelindung diri seperti payung atau topi saat beraktivitas di bawah terik matahari. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci untuk mencegah penyebaran penyakit.
"Jangan membakar sampah dan lahan," tegas Vini, seraya menambahkan imbauan untuk memperbanyak tanaman guna menjaga kualitas udara di sekitar permukiman.