JAWA BARAT — Iran menambah koleksi dua poin dari dua pertandingan Grup G. Hasil imbang tanpa gol lawan Belgia, Minggu (23/6), menyusul hasil serupa 1-1 saat berjumpa Selandia Baru di laga perdana.
Perang, Latihan 16 Jam, dan Kekacauan Logistik
Ghalenoei tidak melebih-lebihkan saat menyebut situasi timnya sebagai yang terburuk. Enam bulan sebelum turnamen, Iran berada dalam kondisi perang dengan USA, yang notabene menjadi tuan rumah bersama.
“Kami dalam kondisi perang selama enam bulan; liga tidak berjalan. Banyak tim membatalkan pertandingan uji coba,” kata Ghalenoei dalam konferensi pers.
Kekacauan berlanjut di Amerika Serikat. Iran bermarkas di Meksiko dan hanya diizinkan terbang ke AS sehari sebelum pertandingan, lalu pulang pada hari yang sama—itu pun dengan visa ketat.
Dua Poin, Satu Sejarah, dan Peluang Lolos
Ghalenoei menyebut para pemainnya pantas mendapat penghargaan khusus. “Kami hanya punya kurang dari 16 jam untuk latihan sebelum pertandingan. Ini akan ditulis dalam sejarah sepak bola kami,” ujarnya.
Meski baru dua poin, Iran masih punya peluang lolos ke babak gugur. Syaratnya: menang lawan Mesir di Seattle, Jumat (28/6). Ghalenoei berharap ada perubahan izin perjalanan agar timnya bisa tiba lebih awal di kota pertandingan.
Belgia Pincang, Iran Nyaris Menang
Melawan Belgia, Iran sebenarnya punya peluang merebut tiga poin penuh. Tim Eropa itu harus bermain dengan 10 orang sejak babak kedua. Sayang, penyelesaian akhir masih menjadi masalah—seperti halnya saat lawan Selandia Baru.
“Kami punya kesempatan untuk menang lawan Belgia, tapi ini tetap pencapaian besar,” tegas Ghalenoei.
Apa Kata Sejarah?
Ghalenoei yakin generasi mendatang akan membicarakan apa yang diraih timnya di Piala Dunia ini. “Ini akan ditulis dalam sejarah sepak bola kami. Masa depan akan bicara soal apa yang kami capai,” pungkasnya.
Iran kini menunggu keputusan otoritas imigrasi AS. Jika diizinkan terbang lebih awal ke Seattle, persiapan lawan Mesir akan lebih optimal. Jika tidak, sejarah tetap sudah tercatat: Iran belum terkalahkan di Piala Dunia dalam kondisi paling berat.