BANDUNG BARAT — Debu hitam seperti abu arang menyelimuti rumah warga sekitar pabrik marmer PT Kurnia Marmer. Lintang (27), warga yang ikut aksi, mengatakan setiap pagi lantai rumah penuh debu hitam dari proses pembakaran pabrik. "Pakaian yang dijemur di luar juga terkena debu. Banyak warga mengalami gatal-gatal dan sesak napas," ujarnya, Sabtu.
Dugaan Pemakaian Petcoke Memperparah Polusi
Warga menduga perusahaan menggunakan bahan bakar petcoke sebagai pengganti batu bara. Menurut Lintang, petcoke memiliki nilai kalor lebih tinggi namun polusinya lebih besar karena kandungan sulfur yang tinggi. "Debu hasil pembakarannya beterbangan ke mana-mana dan menjadi penyebab warga mengalami gangguan kesehatan," katanya. Keluhan ini sudah berulang kali disampaikan ke pihak perusahaan, namun tidak pernah ditindaklanjuti dengan solusi nyata.
Getaran Mesin 24 Jam dan Pembangunan Benteng Tanpa Musyawarah
Selain polusi udara, warga mengeluhkan getaran mesin dari operasional pabrik nonstop. Getaran ini mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar kawasan industri. Mereka juga memprotes rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa yang dilakukan tanpa pemberitahuan maupun musyawarah dengan warga terdampak.
Lintang menegaskan aksi Sabtu ini merupakan protes atas dua persoalan: polusi dan pembangunan sepihak. "Kami minta perusahaan segera merespon keluhan kami yang sudah bertahun-tahun diabaikan," tegasnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT Kurnia Marmer terkait tuntutan warga.