JAWA BARAT — Dibintangi Jack Rowan (Peaky Blinders) dan Chris Walley, Skintown membawa penonton ke Irlandia Utara tahun 1994, tepat ketika IRA mengumumkan gencatan senjata. Lewat genre komedi gelap yang enerjik, film ini mencoba menjawab pertanyaan yang jarang diangkat: bagaimana rasanya menjadi muda dan bermimpi besar di tengah kota kecil yang dilanda konflik berk berkepanjangan?
Sinopsis: Dua Sahabat dan Mimpi Kabur dari Kota Kecil
Berkisah tentang Vinny (Rowan) dan sahabatnya Jonty (Walley), Skintown mengikuti keseharian dua pemuda yang berusaha menikmati hidup lewat pesta, musik rave, dan rencana-rencana besar untuk meninggalkan Enniskillen, kota asal mereka yang dijuluki "Skintown". Namun, ulah nakal mereka di kampung halaman membuat mimpi itu terancam berantakan.
Walsh meramu potret anak muda yang lelah dengan perang, budaya rave era 90-an, dan sejarah kelam Irlandia dalam satu bingkai yang segar. Deretan pemain pendukung seperti Jamie-Lee O'Donnell (Derry Girls) dan Hope Ikpoku Jr. (The Day of the Jackal) ikut memperkuat daya tarik film ini.
Perjalanan Panjang 9 Tahun dan Ganti Pemeran Utama
Jalan menuju layar kaca tidak mulus. Walsh mengaku butuh hampir satu dekade untuk mewujudkan Skintown. "Ini perjalanan yang berat," ujarnya. Naskah film ini semula akan dibintangi Anthony Boyle, yang bertahan selama dua tahun sebelum akhirnya mundur karena menerima tawaran besar dari serial Netflix, House of Guinness.
Saat Boyle hengkang, Walsh sempat kehilangan harapan. "Saya merasa kehilangan," katanya. Namun, kehadiran Jack Rowan dengan aksen Enniskillen yang meyakinkan berhasil menghidupkan kembali visi sang sutradara. Rowan sendiri tidak melihat pergantian ini sebagai sebuah kerugian. "Saat Anthony memegang peran itu, itu memang haknya. Saya tidak pernah membayangkan bisa masuk. Ketika dia tidak jadi, itu membuka kesempatan untuk saya. Tidak ada yang dirugikan," ucapnya.
Reaksi Penonton dan Harapan di Edinburgh
Rowan dan Walsh berharap penampilan mereka di Edinburgh mampu menciptakan "buzz" bagi film ini. Rowan meyakini cerita seperti Skintown memang sudah lama dinantikan, terutama oleh penonton Irlandia Utara. "Saya pikir orang Irlandia Utara khususnya benar-benar ingin melihat kisah seperti ini di layar. Ini belum pernah dieksplorasi sebelumnya: orang biasa yang hidup di tengah baku tembak, anak muda yang mencoba menjalani hidup normal," jelasnya.
Proses syuting yang hanya memakan waktu 22 hari disebut berjalan lancar dengan cuaca yang mendukung. Film ini menjadi salah satu tontonan paling ramai di Edinburgh tahun ini, membuktikan bahwa cerita lokal dengan penggarapan segar tetap punya tempat di kancah festival internasional.