BOGOR — Ribuan api obor yang menyala di kawasan TMP Pondok Rajeg pada Senin (17/8/2026) dini hari bukan sekadar penerang jalan. Bagi Komandan Lanud (Danlanud) Atang Sendjaja, Marsma TNI A F Picaulima, kobaran api itu adalah jembatan emosi yang menghubungkan generasi kini dengan getirnya perjuangan masa lalu.
Menurut Picaulima, tradisi membawa obor sengaja dihadirkan kembali dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI. Hal ini dilakukan agar para peserta, khususnya generasi muda, tidak hanya hadir secara fisik, tetapi mampu merasakan denyut perjuangan para pendahulu bangsa.
Mengapa Obor yang Dipilih untuk Peringatan HUT RI?
Picaulima menjelaskan bahwa pemilihan obor bukan tanpa alasan. Cahaya dan panasnya dinilai mampu membangkitkan penghayatan yang lebih dalam dibandingkan sekadar lilin atau lampu senter.
"Masa-masa lama tuh seperti itu, banyak obor api," jelasnya di sela-sela kegiatan, Senin dini hari.
Api yang menyala di ujung obor menjadi simbol nyala semangat yang tak kunjung padam. Melalui medium ini, para peserta diajak untuk merenungkan betapa beratnya perjuangan para pahlawan yang berjuang dalam kegelapan demi merebut kemerdekaan.
Menghidupkan Suasana Batin Pejuang di TMP Pondok Rajeg
Lebih lanjut, Danlanud Atang Sendjaja menuturkan bahwa ritual ini adalah upaya untuk menyelami kembali semangat juang yang hampir terlupakan. Suasana dini hari yang hening di area makam pahlawan semakin memperkuat atmosfer kontemplasi tersebut.
Ia menegaskan, obor menjadi representasi dari tradisi masa lampau yang sengaja dihadirkan kembali di tengah kemajuan zaman. Hal ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur dan meneladani nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan obor dalam peringatan HUT RI di TMP Pondok Rajeg menjadi salah satu rangkaian acara yang paling berkesan. Ribuan peserta berjalan dalam iring-iringan cahaya, membentuk pemandangan yang kontras dengan kegelapan malam, sekaligus menjadi pengingat akan harga sebuah kemerdekaan.