BANDUNG — Selain membangun kebiasaan berbagi, Baznas Goes to School diarahkan untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan dukungan biaya pendidikan agar dapat melanjutkan sekolah. Program ini menyasar pelajar di jenjang sekolah dasar dan menengah pertama negeri.
Peluncuran program berlangsung bersamaan dengan Gebyar Pengumpulan dan Penyaluran ZIS Baznas Kota Bandung Tahun 2026. Dalam kegiatan yang sama, dilakukan pengukuhan Duta Zakat Pelajar sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi dan meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan pendidikan.
299 SD dan 75 SMP Negeri Jadi Sasaran Tahap Awal
Rincian sasaran tahap awal mencakup 75 sekolah menengah pertama negeri dan 299 sekolah dasar negeri di Kota Bandung. Totalnya 374 satuan pendidikan negeri yang akan menerima edukasi literasi ZIS.
Pemkot Bandung berharap pelaksanaan program dapat diperluas ke sekolah swasta pada tahap berikutnya. Perluasan itu dimaksudkan agar semakin banyak pelajar memperoleh edukasi mengenai pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.
Bukan Sekadar Pengumpulan Dana
Farhan menjelaskan, program tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pengumpulan dana. Baznas Goes to School dirancang untuk membangun pemahaman pelajar mengenai pentingnya berbagi dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Farhan, lingkungan sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun karakter dan kebiasaan positif sejak usia dini. Edukasi yang dilakukan secara terarah diharapkan membuat siswa memahami fungsi sosial zakat dalam membantu mengurangi kesulitan masyarakat, termasuk di bidang pendidikan.
"Di dalamnya ada pendidikan bagi para siswa untuk terbiasa dengan konsep zakat, infak, sedekah, sekaligus melakukan identifikasi bagi anak-anak sekolah yang memerlukan bantuan RMP (Rawan Melanjutkan Pendidikan)," ujar Farhan.
Identifikasi Siswa Rawan Putus Sekolah
Fungsi identifikasi menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Melalui pendataan di sekolah, siswa yang masuk kategori rawan melanjutkan pendidikan dapat dipetakan lebih awal.
Hasil pemetaan itu menjadi dasar penyaluran dukungan biaya pendidikan bagi pelajar yang membutuhkan. Dengan begitu, literasi ZIS tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi bersambung ke bantuan konkret di lingkungan sekolah.