JAKARTA — Upaya PSSI menambah kekuatan Timnas Indonesia lewat jalur naturalisasi kembali menemui hambatan. Regulasi FIFA tidak hanya menilai kualitas pemain di lapangan, tetapi juga kejelasan garis keturunan dan kelengkapan dokumen resmi.
Empat nama yang sempat masuk radar harus gugur sebelum proses naturalisasi bergulir. Penyebabnya beragam, mulai dari garis keturunan yang terlalu jauh hingga dokumen pendukung yang tak pernah lengkap.
Dean Zandbergen: Darah Indonesia dari Generasi Buyut
Kasus terbaru menimpa Dean Zandbergen, penyerang Dinamo Bucuresti. Pelatih John Herdman mengungkap bahwa darah Indonesia Zandbergen hanya berasal dari generasi buyut.
Kondisi itu membuat Zandbergen tidak memenuhi syarat jalur keturunan. FIFA mensyaratkan hubungan langsung dengan orang tua atau kakek-nenek kandung, bukan generasi di atasnya.
Mauresmo Hinoke Sudah Tampil di Timnas U-20, Tetapi Tetap Tak Lolos
Situasi serupa dialami Mauresmo Hinoke. Ia sempat tampil bersama Timnas U-20 di Maurice Revello Tournament 2024.
Meski begitu, darah Indonesia Hinoke juga berasal dari generasi keempat. Status tersebut tidak cukup untuk memenuhi ketentuan FIFA.
Jairo Riedewald: Dokumen Tak Lengkap dan Riwayat Timnas Belanda
Nama besar seperti Jairo Riedewald pun pernah masuk radar. Pengalamannya di Ajax Amsterdam dan Crystal Palace dianggap bisa menambah kekuatan Garuda.
Namun, dokumen pendukung tidak pernah lengkap. Rekam jejaknya bersama Timnas Belanda senior membuat proses perpindahan federasi semakin rumit.
Mitchel Bakker dan Garis Keturunan Maluku yang Berhenti di Buyut
Mitchel Bakker, bek yang pernah bermain untuk PSG dan Atalanta, juga dikaitkan dengan peluang membela Indonesia. Hasil pemeriksaan menunjukkan garis keturunan Maluku yang dimilikinya hanya sampai buyut.
PSSI pun menghentikan pembicaraan lebih lanjut untuk Bakker. Keputusan itu menutup salah satu opsi penambahan kekuatan di lini belakang.
Mengapa Jalur Keturunan Kerap Menjadi Batu Sandungan
Empat kasus di atas menunjukkan pola yang sama: kedekatan garis keturunan menjadi penentu utama. FIFA tidak memberi ruang bagi pemain yang hubungan keluarganya terlalu jauh dari generasi kandung.
Kelengkapan dokumen juga jadi syarat yang tak bisa ditawar. Tanpa berkas yang jelas, proses perpindahan federasi tidak bisa dilanjutkan, sekalipun pemain punya kualitas dan pengalaman di klub besar Eropa.
Bagi PSSI, daftar empat nama ini menjadi catatan tersendiri. Perburuan pemain keturunan perlu disaring lebih awal, terutama soal generasi garis keturunan dan kesiapan dokumen, sebelum pembicaraan dengan pemain berjalan jauh.