JAWA BARAT — PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) membukukan pendapatan Rp 1,6 triliun pada Januari-September 2026, naik 53,3% secara tahunan dari Rp 1,04 triliun pada periode sama tahun lalu. Laba bersih emiten F&B pemilik merek Fore Coffee dan Fore Donut itu ikut melesat 49,7% YoY menjadi Rp 90 miliar.
Pertumbuhan bottom line FORE ditopang kenaikan EBITDA 70,6% YoY menjadi Rp 342,2 miliar. Margin EBITDA melebar ke 21,4% dari sebelumnya 19,3%, menandakan operasional gerai berjalan lebih efisien seiring bertambahnya jaringan.
Presiden Direktur FORE Vico Lomar menyatakan penjualan bersih, laba kotor, dan EBITDA perseroan hingga September 2026 telah melampaui realisasi setahun penuh 2025.
"Kinerja keuangan yang solid sepanjang periode Januari-September 2026, didukung oleh peningkatan profitabilitas dan ekspansi jaringan gerai yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).
Rincian Kinerja Sembilan Bulan Pertama
Dalam sembilan bulan, FORE mencatatkan empat capaian utama yang seluruhnya bergerak positif dibanding periode sama tahun lalu:
- Pendapatan: Rp 1,6 triliun, tumbuh 53,3% YoY dari Rp 1,04 triliun
- EBITDA: Rp 342,2 miliar, naik 70,6% YoY
- Margin EBITDA: 21,4%, membaik dari 19,3%
- Laba bersih: Rp 90 miliar, naik 49,7% YoY
Laju pertumbuhan EBITDA yang lebih cepat ketimbang pendapatan menunjukkan beban pokok penjualan dan biaya operasional tumbuh lebih lambat dari penjualan. Alhasil, laba kotor perseroan ikut terangkat meski rincian angkanya tidak dipaparkan dalam keterangan resmi.
Melewati Target Setahun Penuh Lebih Cepat
Capaian Januari-September 2026 sudah melampaui realisasi setahun penuh 2025 pada tiga metrik sekaligus, yakni penjualan bersih, laba kotor, dan EBITDA. Artinya, tiga bulan terakhir tahun ini menjadi tambahan di atas basis yang sudah terlampaui, bukan lagi pengejaran target.
Bagi pemegang saham, margin EBITDA 21,4% memberi ruang lebih besar untuk menyerap kenaikan biaya bahan baku kopi maupun tekanan sewa lokasi gerai baru. Struktur biaya yang membaik juga menjadi modal untuk mempercepat pembukaan gerai tanpa mengorbankan profitabilitas.
Ekspansi Gerai Jadi Mesin Pertumbuhan
Manajemen menempatkan ekspansi jaringan gerai sebagai pendorong utama kinerja. Penambahan gerai Fore Coffee dan Fore Donut memperbesar basis pendapatan sekaligus memperkuat pengenalan merek di kota-kota baru.
Strategi tersebut sejalan dengan pola bisnis kedai kopi yang bertumpu pada volume transaksi per gerai dan kecepatan balik modal. Selama margin gerai baru terjaga, penambahan outlet berdampak langsung ke pendapatan konsolidasi.
Namun, ekspansi agresif menyimpan risiko tersendiri. Persaingan di segmen kopi siap saji di Indonesia ketat, dengan pemain besar maupun merek lokal berebut lokasi strategis. FORE perlu memastikan setiap gerai baru mencapai tingkat penjualan yang sehat agar pertumbuhan pendapatan tetap berbanding lurus dengan laba.
Yang Perlu Dicermati Investor
Pertumbuhan 53,3% YoY terlihat impresif, tetapi sebagian berasal dari efek basis rendah lantaran jumlah gerai tahun lalu masih lebih sedikit. Investor perlu memantau penjualan per gerai (same-store sales) pada laporan berikutnya untuk memastikan pertumbuhan datang dari gerai lama yang makin ramai, bukan semata dari penambahan outlet.
Dari sisi likuiditas, FORE belum membeberkan posisi kas dan arus kas operasi dalam keterangan resmi. Dua angka itu penting untuk menilai apakah ekspansi jaringan gerai dibiayai dari kas internal atau memerlukan pendanaan tambahan.
Laporan keuangan lengkap periode Januari-September 2026 akan menjadi acuan pasar berikutnya, termasuk reaksi harga saham FORE di Bursa Efek Indonesia setelah rilis kinerja ini.